Analisis Sistem Penyelenggaraan Pendidikan PESANTREN

Analisis Sistem

Penyelenggaraan Pendidikan PESANTREN

Oleh :  Suteja

(Dosen STAIN Cirebon)

PENGANTAR

Pesantren  adalah adalah lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari, memahami, mendalami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya modal keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari.[1] Pengertian tradisional di sini menunjuk bahwa pesantren sebagai lembaga pendidikan agama (Islam) telah hidup sejak 300 – 500 tahun lalu dan telah menjadi bagian yang mengakar dalam kehidupan sebagian besar umat Islam Indonesia, dan telah mengalami perubahan dari masa ke masa. Tradisional bukan berarti tetap tanpa mengalami perubahan.

Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang unik di Indonesia.[2] Lembaga pendidikan ini telah berkembang khususnya di Jawa selama berabad-abad. Pesantren sebagai lembaga pendidikan dan pusat penyebaran agama Islam lahir dan berkembang semenjak masa-masa permulaan kedatangan agama Islam di Nusantara. Lembaga ini berdiri untuk pertama kalinya di zaman Wali Songo. Syaikh Mawlana Malik Ibrahim atau Mawlana Maghribi (w.1419 M.) dianggap sebagai pendiri pesantren yang pertama di Jawa.[3] Syaikh Mawlana Malik Ibrahim  dipandang  sebagai Spiritual Father Wali Songo, gurunya guru tradisi pesantren di tanah Jawa.[4]

Menyusul kemudian pesantren Sunan Ampel di daerah Kembangkuning  Ampel Denta Surabaya, yang pada mulanya hanya memiliki tiga orang santri atau murid.[5] Pesantren Sunan Ampel inilah yang melahirkan kader-kader Wali Songo seperti Sunan Giri (Raden Paku atau Raden Samudro). Sunan Giri setelah tamat berguru kepada Sunan Ampel dan ayahandanya sendiri  (Mawlana Ishak)   kemudian mendirikan pesantren di Desa Sidomukti Gresik.  Pesantren itu sekarang lebih dikenal dengan sebutan Pesantren Giri Kedaton.[6]

Raden Fatah adalah juga murid Sunan Ampel. Setelah mendapatkan ijazah dari sang guru ia mendirikan pesantren di Desa Glagah Wangi, sebelah Selatan Jepara (1475 M.). Di Pesantren ini pengajarannya terfokus kepada ajaran tasawwuf para  wali  dengan sumber utama Suluk Sunan Bonang (tulisan tangan para wali). Sedangkan kitab yang dipergunakan adalah Tafsir al-Jalalayn.[7] Ketika Demak dipimpin oleh Sultan Trenggono (memerintah 1521 – 1546)  Fatahillah (Fadhilah Khan) yang dipandang ‘alim dan dihormati masyarakat dipercaya untuk mendirikan pesantren di Demak.[8] Setelah perpindahan kekuasaan dari Demak ke Pajang dalam tahun 1568, kalangan kerajaan tetap mempelopori langsung pendirian masjid dan pondok pesantren. Setelah pusat kerajaan Islam berpindah lagi dari Pajang ke Mataram, dalam tahun 1588 M., perhatian untuk memajukan pondok pesantren semakin besar.

Satu abad setelah masa Wali Songo, abad 17, Mataram memperkuat pengaruh ajaran para wali. Setelah berhasil mempersatukan Jawa Timur dan Mataram, serta daerah-daerah lain,   Sultan Agung, yang dikenal sebagai Sultan Abdurrahman dan Khalifatullah Sayyidina Penotogomo ing Tanah Jawi (memerintah 1613-1645 M.) sejak tahun 1630 M. mencurahkan perhatian membangun negaranya dan lebih mengaktifkan kebudayaan dan pendidikan. Pada  masa pemerintahan Sultan Agung ini pendidikan pesantren mulai tampak kemajuan dengan diselenggarakannya  empat macam bentuk pondok pesantren, yaitu :   tingkat pengajian al-Quran, tingkat pengajian kitab, tingkat pesantren besar, dan tingkat pengajian tingkat khusus (takhshush) dengan spesialisasi cabang ilmu tertentu,  serta  pengajian tafsir, hadits, dan  tarekat.[9] Tingkat atau kelas ini disebut pesantren tariqat.[10] Kenyataan ini identik dengan dinamika dan kemajuan yang dinikmati Madrasah Nizamiyah Baghdad ketika pada masa-masa keemasannya di bawah kepemimpinan al-Ghazali.

Hal baru yang sangat menarik adalah inisiatif Sultan Agung untuk memperhatikan pendidikan pesantren secara lebih serius. Dia menyediakan tanah perdikan bagi kaum santri serta memberi iklim sehat bagi kehidupan intelektualisme keagamaan (Islam) hingga mereka berhasil mengembangkan tidak kurang dari 300 buah pondok pesantren.[11] Tempat belajar biasanya di serambi masjid dan mereka umumnya mondok. Kitab-kitab yang dipelajari karangan seorang ulama  Persia, Mawlana Ibrahim al-Samarqandi, Fath al-Qarib karya Abu al-Qasim al-Ghazi, dan Bidayah al-Hidayah karya al-Ghazali. Waktu belajar pagi hari, tengah hari dan malam hari. Sistem atau metode yang digunakan ialah metode sorogan. Pada Pesantren Besar diajarkan kitab-kitab model  syarh dan hasyiyah dalam berbagai macam disiplin ilmu seperti fiqh, tawhid, hadits, kalam, tasawuf, nahwu, sharaf, dan lain-lain. Tenaga pengajar atau gurunya adalah ulama dari kerajaan yang disebut Kyai Sepuh atau Kanjeng Kyai. Sedangkan pada pesantren takhashush para santri memperdalam suatu cabang ilmu  tertentu misalnya hadits, tafsir, atau tariqat.

Pada tahap-tahap pertama pendidikan pesantren memang masih memfokuskan dirinya  kepada upaya pemantapan iman dengan latihan-latihan ketarikatan daripada menjadikan dirinya sebagai pusat pendalaman Islam sebagai ilmu pengetahuan atau wawasan.  Sebagai contoh Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon. Pesantren tertua di Jawa Barat ini  didirikan pada tahun 1817 oleh Ki Jatira (salah seorang murid Maulana Yusuf dan sekaligus  utusan Kesultanan “Hasanuddin” Banten).  Seperti banyak dikemukakan dalam perjalanan sejarah, bahwa seputar abad ke-17 dan 18 M., dimana pesantren mulai dirintis, kondisi masyarakat pada umumnya masih demikian kental dengan tradisi mistik yang kuat.[12]

Eksistensi pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan Islam mistik saat itu  dikarenakan oleh sebab-sebab  yang berasal dari  luar pesantren.  Sebab-sebab  dimaksud adalah  langkanya literatur keislaman di Jawa ketika itu sebagai konsekuensi logis dari  kurangnya kontak antar umat Islam di Jawa dengan Timur Tengah, yang disebabkan oleh politik pecah belah Belanda yang tengah berusah keras  menunjang penyebaran agama Kristen di Nusantara.[13]

Pesantren dalam bentuknya semula tidak dapat disamakan dengan lembaga pendidikan madrasah atau sekolah seperti yang dikenal sekarang ini.  Perkembangan selanjutnya menunjukkan pesantren sebagai satu-satunya lembaga pendidikan tradisional yang tampil dan berperan sebagai pusat penyebaran sekaligus pendalaman agama Islam bagi pemeluknya secara terarah.[14]

Abad ke-19 M. adalah abad permulaan adanya kontak umat Islam di Indonesia dengan dunia Islam, termasuk  Timur Tengah. Selain kontak melalui jamaah haji Indonesia, juga melalui sejumlah pemuda Indonesia yang belajar di Timur Tengah (Makkah).  Mereka sebagian besar berasal dari keluarga pesantren.[15] Di antara mereka yang sukses secara gemilang adalah Syaikh Nawawi Tanara Banten (w. 1897 M.),  Syaikh Mahfudz al-Tirmisi (w. 1919 M.),  Syaikh Ahmad Chothib Sambas (asal Kalimantan),  dan Kiai Cholil Bangkalan (w. 1924 M.). Pada abad ke-19 M. mereka adalah orang-orang yang mengisi kedudukan sebagai  imam dan pengajar di Masjid Haram Makkah al-Mukarromah.[16]

Generasi pertama  itu kemudian melahirkan para santri sebagai murid langsung, yang selanjutnya dikenal sebagai generasi kedua dalam jajaran pelopor dan pendiri pesantren di Jawa dan Madura.  Mereka adalah  KH. A. Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang (1871-1947 M.),  KH. Abdul Wahab Hasbullah (Surabaya),   dan KH. Bisyri Syamsuri.

Pada tahun 1899 M.,   KH. A. Hasyim Asy’ari mendirikan Pesantren Tebuireng.  Pesantren itu  menawarkan panorama yang berbeda dari pesantren-pesantren sebelumnya. Ia mencoba merefleksikan hubungan berbabagai dimenasi yang mencakup ideologi, kebudayaan serta pendidikan.[17] Pendirian pesantren ini dipandang sebagai upaya penting komunitas pesantren karena mulai memperlihatkan sikap pesantren menentang hegemoni penjajah. Boleh dijuga diasumsikan motivasi politik yang ditujukan Pesantren Tebuireng adalah manifestasi kesadaran diri dan percaya diri paling tertinggi dari kaum pesantren.[18]

Pada wal abad ke-20 M., Pesantren Tebuireng di bawah pimpinan  KH. A. Wahid Hasyim  yakni  sejak tahun 1916 M  KH. A. Wahid Hasyim telah berhasil melakukan perubahan  yang radikal  secara kelembagaan berkenaan dengan kurikulum pesantren.  Dia memasukkan pendidikan persekolahan (komunitas pesantren menyebutnya sistem madrasi) dengan mendirikan Madrasah Nidzamiyah di dalam lingkungan pesantren.  Di madrasah itu diajarkan berbagai mata pelajaran yang oleh seluruh komunitas pesantren saat itu dihukumi haram dan yang mempelajarinya divonis kafir. Mata pelajaran yang dimaskud  adalah :  Berhitung, Ilmu Bumi, Sejarah, Bahasa Melayu, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Belanda.

Perkembangan pada masa-masa selanjutnya berhasil mencatat pesantren sebagai lembaga pendidikan agama (Islam) yang mampu melahirkan suatu  lapisan  masyarakat  dengan tingkat kesadaran dan pemahaman keagamaan (Islam)  yang relatif utuh dan lurus.[19] Di sisi lain,  sebagai salah satu lembaga pendidikan yang memegang peranan penting dalam penyebaran ajaran agama (Islam) prinsip dasar pendidikan dan pengajaran pesantren adalah pendidikan rakyat. Dan, karena tujuannya memberikan pengetahuan tentang agama,  ia tidak memberikan pengetahuan umum.[20]

A. TUJUAN

Wali Songo dan kyai Jawa adalah agent of social changer melalui pendekatan kultural. Ide cultural resistence juga mewarnai kehidupan intelektual pendidikan pesantren. Subjek yang diajarkan di lembaga ini adalah kitab klasik  yang   diolah dan ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikut, yang sekaligus merujuk kepada  ke-ampu-an kepemimpinan kyai-kyai.

Isi pengajaran kitab-kitab itu menawarkan kesinambungan tradisi yang benar mempertahankan ilmu-ilmu agama dari sejak periode klasik dan pertengahan.  Memenuhi fungsi edukatif, materi yang diajarkan di pesantren bukan hanya memberi akses pada santri rujukan kehidupan keemasan warisan peradaban Islam masa lalu, tapi juga menunjukkan peran hidup yang mendambakan kedamaian, keharmonisan dengan masyarakat, lingkungan dan bersama  Tuhan.

Tujuan itu secara sederhana seperti dikemukakan Mastuhu,[21] adalah menciptakan dan mengembangkan kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan, berakhlak mulia, bermanfaat bagi masyarakat atau berkhidmat kepada masyarakat dengan jalan menjadi kawula atau abdi masyarakat tetapi rasul (pelayan masyarakat sebagaimana kepribadian Nabi Muhammad), mampu berdiri sendiri, bebas dan teguh dalam kepribadian, menyebarkan agama atau menegakkan Islam dan kejayaan umat Islam di tengah-tengah masyarakat, dan mencintai ilmu dalam rangka mengembangkan kepribadian Indonesia.

Karena konsep di atas pula pesantren selalu tegar menghadapi hegemoni dari luar. Pesantren-pesantren tua biasanya selalu dihubungkan dengan kekayaan mereka berupa kesinambungan ideologis dan historis, serta mempertahankan budaya lokal. Denominasi keagamaan dalam pendidikan pesantren yang Syafi’i- Asy’ari-Ghazalian-Oriented terbukti sangat mendukung terhadap pengembangan dan pelaksanaan konsep cultural resistance.

1. Keilmuan

Menarik untuk disimak bahwa, mata rantai keilmuan dan pesantren adalah bersumber dari pemahaman dan interpretasi Wasli Songo terhadap ajaran Islam. Mereka adalah para guru tariqat sufi yang merujuk kepada pemikiran dan doktrin kesalehan al-Ghazali (w. 450- 505 H / 1106-1111 M.). Al-Ghazali adalah ulama dan sufi yang  besar pengaruhnya. Dialah  pembela dan penyebar ajaran teologi al-Asy’ari dan fiqh al-Syafi’i.  Ketika dipercaya menjadi rektor Universitas Nidzamiyah Baghdad pada masa keemasan peradaban Islam, dia menampakkan keberaniannya dengan tidak mengikuti pola pemikiran sang guru yaitu Imam al-Haramaian yang, pada zamannya, dianggap lebih mu’tazili ketimbang tokoh-tokoh mu’tazilah. Dia justru mengikuti pola-pola al-Baqillani dan al-Asy’ari. Dialah penyebar doktrin al-Asy’ari  ke seluruh penjuru dunia, termasuk dunia belahan timur dan Nusantara.  Dari sudut pandang ini bisa dipastikan mata rantai kesejaharan, ideologis ataupun budaya pesantren dengan tradisi intelektual dengan para ulama sufi tempo dulu tetap terjaga, terpelihara, serta tetap lestari.

Rujukan ideal keilmuan pendidikan pesantren cukup komprehensif  meliputi inti ajaran dasar Islam itu sendiri yang bersumber dari al-Quran dan al-Sunnah. Kelengkapan rujukan itu kemudian dibakukan ke dalam tiga sumber atau rujukan pokok yaitu al-Asy’ariyah untuk inti ajaran dasar Islam bidang teologi, al-Syaf’iyah untuk bidang hukumIslam (fiqh) dan al-Ghazaliyah untuk akhlak atau etika Islam dan tasawwuf.

Tradisi keilmuan pesantren sampai sekarang nampaknya tidak pernah bergeser dari aspek essensinya. Dawam Rahardjo, dalam hal ini, menaruh kepercayaan besar terhadap alumni-alumni pesantren yang memperoleh pendidikan di dunia Barat dan bekerja di beberapa sektor dan kantor  swasta dan negara di Indonesia.[22]

2. Pembentukan Kepribadian Santri

Pesantren dalam perkembangannya masih tetap disebut sebagai lembaga keagamaan yang mengajarkan, mengembangkan dan mengajarkan ilmu agama Islam. Pesantren dengan segala dinamikanya dipandang sebagai lembaga pusat perubahan masyarakat melalui kegiatan dakwah islamiah, seperti tercermin dari berbagai pengaruh pesantren terhadap perubahan dan pengembangan kepribadian individu santri, sampai pada pengaruhnya terhadap politik di antara pengasuhnya (kyai) dan pemrintah.

Pesantren dari sudut paedagogis tetap dikenal sebagai lembaga pendidikan agama Islam, lembaga yang terdapat di dalamnya proses belajar mengajar.  Fungsi pesantren dengan demikian lebih banyak berbuat untuk mendidik santri. Hal ini mengandung makna sebagai usaha membangun dan membentuk pribadi, masyarakat dan warga negara. Pribadi yang dibentuk adalah pribadi muslim yang harmonis, mandiri, mampu mengatur kehidupannya sendiri, tidak bergantung kepada bantuan pihak luar, dapat mengatasi persoalan sendiri, serta mengendalikan dan mengarahkan kehidupan dan masa depannya sendiri. Pesantren dalam hal ini bertugas membentuk pribadi  muslim yang  harmonis dalam hubungannya dengan Tuhan, sesama dan lingkungan yang dimulai dari diri sendiri, keluarga, dan tetangga dekat.

Pendidikan pesantren memiliki berbagai macam dimensi : psikologis, filosofis, relijius, ekonomis, dan politis, sebagaimana dimensi-dimensi pendidikan pada umumnya. Tetapi, bagi Dawam,[23] pesantren bukanlah semacam madrasah atau sekolah, walaupun di dalam lingkungan pesantren telah banyak pula didirikan unit pendidikan klasikal dan kursus-kursus. Berbeda dengan sekolah atau madrasah, pesantren memiliki  mempunyai kepemimpinan, ciri-ciri khusus dan semacam kepribadian yang diwarnai karakteristik pribadi kyai, unsur-unsur pimpinan pesantren, dan bahkan aliran keagamaan tertentu yang dianut.  Pesantren memiliki juga memiliki pranata tersendiri yang memiliki hubungan fungsional dengan masyarakat dan hubungan tata nilai dengan tradisi atau kultur masyarakat, khususnya yang berada dalam lingkungan pengaruhnya.

Pesantren sejak awal  kelahirannya  telah menjadikan pendidikan sebagai way of life. Pembentukan kepribadian  muslim yang dilakukan oleh pesantren justru hampir seluruhnya terjadi di luar ruang belajar. Hubungan, interaksi, dan pergaulan sehari-hari santri dengan kyai, atau santri dengan sesamanya, bahkan santri dengan  masyarakat  di sekitar lingkungan pesantren adalah sumber pembelajaran utama dalam rangka pembentukan kepribadian muslim yang dicita-citakan pesantren. 

Pola hubungan santri-kyai dan santri-santri sebagai proses pembentukan kepribadian muslim dalam pendidikan pesantren adalah merupakan kesinambungan dan pelestarian tradisi, budaya, serta nilai-nilai Islam yang ditanamkan oleh Wali Songo yang memposisikan ajaran mereka sebagai ajaran para ulama sebelumnya yang memiliki mata rantai bersambung (istishal al-Sanad)  dengan Rasulullah, Muhammad SAW.

Tujuan pendidikan pesantren bukan untuk mengerjakan kepentingan  kekuasan (powerfull), uang, dan keagungan duniawi. Tetapi, kepada para santri ditanamkan bahwa belajar atau menuntut ilmu adalah semata-mata karena melaksanakan perintah Allah dan rasul-Nya, mencari keridoan Allah, serta menghilangkan kebodohan, sebagai sarana memasyaraktkan ajaran Islam di muka bumi dalam wujud amar ma’ruf nahyu munkar.[24] Menurut Abdurrahman Wahid, diantara cita-cita pesantren adalah latihan untuk dapat berdiri sendiri dan membina diri agar tidak menggantungkan  sesuatu  kecuali kepada Tuhan.[25]

Sejarah mencatat, akibat keberhasilan pendidikan pesantren dalam menanamkan keikhlasan kepada para santrinya telah banyak memberikan kontribusi kepada bangsa dan negara, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Beberapa pesantren tua seperti dikemukakan di atas telah berhasil memberikan teladan dengan melakukan konfrontasi secara fisik dengan penjajah. Hal ini dapat dicermati juga melalui letak geografis beberapa pesantren di  tanah Jawa yang sejak semula nyata-nyata menampakkan perlawanan dengan sentra-sentra kekuatan dan ekonomi penjajahan Belanda di Indonesia. Zamakhsyari Dzofir mencatat bahwa Pesantren Tebuireng Jombang  (Jawa Timur)  letaknya tepat berhadapan dengan salah satu pabrik gula terbesar yang terletak  di Desa Cukir Jombang.  Fenomena ini menunjukkan bahwa sejak semula pesantren telah menyatakan konfrontasi dengan kemajuan teknologi Barat yang secara langsug mempengaruhi pola fikir dan prilaku santri waktu itu.[26]

Di wilayah Jawa Barat terdapat pesantren tua yang terletak di Desa Babakan Kecamatan Ciwaringin Cirebon. Pesantren ini berdiri sejak tahun 1817. Ketika terjadi Perang Diponegoro di Jawa tengah (1825-1830),  yang dipimpin oleh  Syaikh Abdurrahim putra Amangkurat III dari hasil pernikahan dengan seorang putri Kyai dari Desa Tingkir,  Ki Jatira dan para santri pesantren itu tengah berjuang keras melawan Belanda yang bermarkas di Gunung Jaran Desa Gempol Kecamatan Ciwaringin. Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon (didirikan KH. Ahmad Syathori) adalah salah satu pesantren di wilayah kawedanan Arjawinangun yang sebagian bangunan fisiknya mempergunakan tanah bekas pabrik gula yang dibangun  Belanda (regendom). KH. Ahmad Syathori termasuk salah seorang santri KH. Jawhar ‘Arifin Balerante yang tergolong kirtis. Dia juga belajar hadits/ilmu hadits dan fiqih Maliki kepada Syakykh Muhammad ‘Alawiy al-Malikiy di Madinah. Semasa penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang, sang kyai ini kerapkali keluar masuk penjara karena perlawananya terhadap kekuasaan kolonial.

Beberapa pesantren lain yang juga memposisikan diri berkonforntasi dengan kekuatan penjajah misalnya: Pesantren Kempek Ciwaringin (didirikan oleh K. Harun), Pesantren Balerante Palimanan (didirikan seorang putra bangsawan bernama Cholil), Pesantren Sukun Sari Plered (Weru Kidul), Buntet Pesantren di Mertapada Wetan Kecamatan Astajanapura, dan Pesantren Gedongan Desa Ender Astanajapura. Letak geografis semua pesantren tersebut  mendekati pabrik gula  yang pada masa itu  merupakan  pusat perkonomian Belanda  yang dijadikan tumpuan eksploitasi kekuatan infrastruktur rakyat Indonesia.

3. Tujuan Umum

Berbeda dengan lembaga-lembaga pendidikan lainnya yang pada umumnya menyatakan tujuan pendidikannya dengan jelas, pesantren terutama pesantren-pesantren tradisional biasanya tidak merumuskan secara eksplisit dasar dan tujuan pendidikannya. Namun bukan berarti bahwa pendidikan pesantren itu berlangsung tanpa arah yang dituju, hanya saja tujuan itu tidak dirumuskan secara sistematis dan dinyatakan secara eksplisit.

Tujuan pendidikan yang diselenggarakan dapat diketahui dengan jalan menanyakan langsung kepada para penyelenggara dan pengasuh pesantren dengan cara memahami fungsi-fungsi yang dilaksanakan baik dalam hubungannya dengan para santri maupun dengan masyarakat sekitarnya. Tujuan pendidikan pesantren pada umumnya diserahkan kepada proses improvisasi menurut perkembangan pesantren yang dipilih sendiri oleh kyai atau bersama-sama dengan pembantunya secara intuitif.

Berdasarkan pendapat para ahli dapat dikemukakan bahwa, tujuan pendidikan pesantren adalah mencetak kader ulama dan kader pemimpin Islam.[27] Sementara Zamakhsyari berpendapat bahwa, tujuan pesantren adalah mendidik calon-calon ulama. Zamkhsyari juga merumuskan tujuan pendidikan pesantren sebagai usaha meninggikan moral, melatih dan mempertinggi semangat, menghargai nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan, mengajarkan sikap dan tingkah laku yang jujur dan bersih hati. [28]

Tujuan umum pesantren, dengan demikian,  adalah untuk mendidik dan meningkatkan ketaqwaan dan keimanan seseorang sehingga dapat mencapai manusia sempurna. Tujuan pesantren bukanlah untuk mengejar kepentingan kekuasaan, uang dan kebanggaan duniawi, melainkan ditanamkan kepada mereka bahwa belajar adalah semata-mata kewajiban dan pengabdian kepada Allah. Pendidikan pesantren sangat menekankan pentingnya tegaknya Islam di tengah-tengah kehidupan sebagai sumber utama moral yang merupakan kunci keberhasilan hidup bermasyarakat.

B. PENDIDIK (Kyai)

Kyai adalah faktor terpenting , dalam sistem pendidikan peantren. Dia mempunyai kelebihan di bidang keilmuan agama Islam dan kepribadian yang terpercaya serta layak diteladani. Disamping kyai juga lazimnya adalah pemliki atau pemberi wakaf pesantren. Bagi Zamakhsyari, kebanyakan kyai di Jawa beranggapan bahwa suatu pesantren dapat diibaratkan sebagai sebuah kerajaan kecil dimana kyai merupakan sumber mutlak kekausaan dan kewenangan dalam kehidupan dan lingkungan pesantren. Tidak seorang pun santri atau orang lain yang dapat melawan kekuasaan kyai di dalam lingkungan pesantrennya kecuali kyai lain yang lebih besar.[29]

Di samping itu dengan keutamaan pengetahuannya dalam agama Islam kyai sering dipandang sebagai orang yang senantiasa  dapat memahami kebesaran Tuhan dan rahasia alam sehingga dengan demikian mereka dianggap memiliki kedudukan yang tidak dapat dijangkau oleh manusia pada umumnya. Bahkan kyai merupakan perantara kalau salah seorang santri atau orang awam ingin memasuki wilayah Ilahi.[30] Kyai juga dikenal karena kesederhanaan dalam hidup dan keikhlasan dalam mengabdi kepada kepentingan orang banyak yang kesemuanya itu memberikan pengaruh tidak kecil bagi pembentukan dan pengembangan kepribadian para santrinya.

C. MURID (SANTRI)

Santri merupakan unsur penmting dalam sebuah sistem pendidikan pesantren, selain kyai atau ustadz. Santri adalah murid yang mengikuti pendidikan pesantren, biasanya mereka tinggal di pondok atau asrama yang disediakan oleh pesantren. Namun ada kalanya mereka tinggal di rumah masing-masing. Dengan demikian ada dua kategori santri dalam ssistem pendidikan pesantren.

Untuk dapat memasuki sebuah pesantren, calon santri tidak ditentukan secara kaku tentang batasan umur. Begitu juga ataupun masa belajarnya,  santri tidak dikenai aturan  yang tegas dan pasti berapa lama mereka harus menetap di pesantren atau menyelesaikan sebuah materi pengajian dalam bidang keilmuan tertentu.

Hubungan atau realasi santri dengan kyai atau guru dalam pesantren tradisional adalah sangat intim, baik ketika masih berada di pesantren ataupun sesudah pulang kembali ke daerah masing-masing (alumni). Tidak jarang  para santri yang sesudah menjadi pemimpin di masyarakatnya berkunjung ke pesantren menjumpai kyai atau gurunya, terutama ketika hari-hari besar Islam ataupun upacara Hawl Sesepuh Pesantren, Upacara Imtihan Akhir al-Sanah, atau Upacara Khitanan/pernikahan keluarga besar pesantren. Masih juga berlangsung tradisi para santri mengunjungi maqbarah para kyai pesantren (ziarah qubur) pada hari-hari atau malam-malam tertentu.

D. PERALATAN

Secara definitif, pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional Islam untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam dengan mementingkan moral agama Islam sebagai pedoman hidup bermasyarakat sehari-hari. Penyelenggaraaan lembaga pendidikan pesantren berbentuk asrama atau pondok yang merupakan komunitas tersendiri di bawah pimpinan kyai dan ulama dibantu seorang atau beberapa orang ulama atau pembantu yang hidup bersama di tengah-tengah para santri. Masjid atau surau merupakan pusat kegiatan peribadatan keagamaan,  gedung-gedung madrasah atau ruang belajar adalah pusat kegiatan belajar mengajar serta pondok-pondok sebagai tempat tinggal santri.[31]

Pondok, masjid, santri, pengajaran kitab-kitab klasik, dan kyai merupakan  lima elemen dasar dan tradisi pendidikan pesantren. Suatu lembaga pengajian yang telah berkembang memiliki kelima elemen tersebut, akan berubah statusnya menjadi pesantren.[32] Asrama atau pondok adalah tempat santri atau tempat murid-murid belajar mengaji dan sebagainya. Adapun kitab-kitab yang menjadi kajian utama dapat disebut secara makro sebagai berikut : membaca al-Quran, sejarah kehidupan Rasulullah dan para sahabat-sahabatnya, fiqh, ushul al-Fiqh, hadits, tafsir, tawhid, tasawuf, akhlaq, dan bahasa serta sastra Arab.

E. PROGRAM

Pesantren,  sebagaimana dimaklumi, adalah lembaga pendidikan yang mengutamakan pengajaran kitab-kitab klasik.  Kitab klasik yang dimaksud adalah kitab-kitab karya ulama Islam abad pertengahan yang ditulis dengan menggunakan Bahasa Arab.[33] Bila ditunjau dari kandungannya,  kitab dimaksud bersifat komprehensif dan dapat dikatakan berbobot secara akademis. Namun dari segi sistematika  penyajiannya nampak sangat sederhana misalnya karena tidak mengenal tanda baca seperti titik, koma, dan sebagainya.

Perkembangan zaman sekarang menunjukkan bahwa, banyak pesantren-pesantren yang memasukkan pengetahuan umum pada sistem pendidikannya.  Namun demikian, pada beberapa pesantren, pengajian kitab klasik tetap dipertahankan.  Karena, sebagaimana tujuan semula pesantren mencetak kader-kader ulama. Dan, oleh karenanya pengajaran kitab klasik menjadi salah satu unsur penting dalam sebuah pesantren.

F. PROSES

Pada umumnya sebagian besar pesantren bercita-cita agar para santrinya menjadi kader atau calon ulama. Untuk mendukung ketercapainya tujuan itu maka diselenggarakan proses pembelajaran yang kondusif yakni dengan memberikan materi pembelajaran yang bersumber kepada kitab-kitab klasik atau kitab kuning. Proses pembelajaran di pesantren pada umumnya mengikuti dua pola tradisional, yaitu model sorogan dan model bandongan. Kedua model itu kyai aktif dan santri pasif.  Secara teknis model sorogan bersifat individual, sedangkan model bandongan lebih bersifat klasikal.

Banyak kalangan menilai metode sorogan dan bandongan itu statis. Tetapi, bukan berarti tidak menerima inovasi. Metode ini sebenarnya merupakan konsekuensi dari layanan yang sebesar-besarnya, yang ingin dilakukan justru mengarah pada layanan secara individual kepada santri. Metode sorogan justru mengutamakan kematangan dan perhatian serta kecakapan santri. Dengan demikian, metode sorogan adalah metode mengajar secara individual langsung dan intensif. Disamping itu, metode sorogan juga  dilakukan secara bebas tidak ada paksaan dan bebas tidak ada hambatan formalitas.

Metode Sorogan

Pengajaran dengan sistem sorogan ini dilaksanakan sebagai berikut :[34]

1. Santri menghadap guru atau kyai seorang demi seorang dengan membawa kitab yang akan dikaji

2. Kyai atau guru membacakan  teks kitab tersebut kalimat demi kalimat

3. Kyai atau guru kemudian menterjemahkan dan menerangkan maksud dari isi kitab tersebut

4. Santri menyimak dan memberi catatan pada kitab yang ia pegang.

Metode pengajaran ini hanya dilakukan kepada sejumlah kecil santri senior yang dianggap terpandai dan di kemudian hari bisa diharapkan menjadi kader atau guru bagi para santri junior di lingkungan pesantren. Pengajaran dengan metode ini tidak mengenal adanya absensi atau kehadiran dan juga kenaikan kelas atau tingkat lazimnya di pendidikan madrasah atau persekolahan. Hal ini berarti bahwa masa belajar santri tidak bergantung kepada lamanya di amenjadi santri akan tetapi bergantung kepada kapan dia dapat menamatkan pelajaran yang dikajinya bersama dengan sang kyai atau guru. Sistem semacam ini juga dapat membangkitkan kreativitas santri untuk lebih berprestasi.

Ada anggapan bahwa, metode ini dianggap tidak efisien bila dibandingkan dengan sistem klasikal yang lebih mementingkan efisiensi pengajaran daripada proses belajar  peserta didik. Namun sistem ini diakui paling intensif dalam pengajaran kitab maupun dalam pelimpahan nilai budaya (delivery of culture).  Bahkan dewasa ini kecenderungan yang ada justru mengarah  pada layanan individual sebagaimana dikembangkan di universitas-universitas Barat.[35]

Metode Wetonan atau Bandongan

Metode kedua adalah metode wetonan atau bandongan. Metode ini adalah identik dengan metode kuliah, dimana para santri mengikuti pelajaran dengan duduk di sekeliling kyai atau guru yang menerangkan pelajaran secara kuliah, santri menyimak kitab masing-maing dan dapat membuat catatan padanya.[36]

Selain kedua metode itu ada juga metode hafalan dan halaqah.[37] Kedua metode ini digunkana oleh pesantren pada umumnya, baik pesantren salafi (tradisional) ataupun khalafi (modern). Kecuali pesantren-pesantren tertentu yang memiliki pedoman penyelenggaraan pendidikan pesantren secara khas seperti Pondok Modern   Darussalam   Gontor  Ponorogo Jawa Timur.

Pendidikan pesantren mengenal proses yang disebut indoktrinasi yang diperkuat oleh disiplin yang cenderung keras. Ta’zir atau corporal punishment adalah bentuk hukuman yang paling banyak digunakan dalam proses pendidikan pesantern. Hukuman ini diterapkan bagi mereka yang melanggar ortodoksi pesantren atau otoritas kyai. Secara umum kalangan pesantren berpendapat bahwa, dalam beberapa hal, kekerasan diperbolehkan untuk menghilangkan dharar atau madharat dan menghilangkan fitnah. Meskipun bersifat fisik, hukuman kekerasan itu dilakukan dengan prinsip mubarrih dan bersifat membuat jera.[38] Secara psikologis metode ini bisa menimbulkan pemahaman bahwa menggunakan kekerasan untuk tujuan-tujuan yang benar diperbolehkan, dan mendorong para santri melakukan tindak  kekerasan  terhadap musuh.

Sistem pendidikan yang  demikian dapat melahirkan manusia yang reaktif dan intolerenace terhadap perbedaan. Sikap tersebut antara lain ditandai dengan solidaritas buta, selalu mengutamakan kelompok sendiri dan merasa kelompoknya paling baik, mengutamakan orang-orang yang mempunyai hubungan particular atau hubungan khusus dengannya, eksklusif (memisahkan diri dari orang lain atau kelompok lain), dan perasaan mayoritas-minoritas (menunjukkan dominasi mayoritas dan tirani minoritas).

G. EVALUASI

Pendidikan pesantren  yang belum mengadopsi sistem pendidikan modern belum mengenal, atau memang tidak perlu mengenal sistem penilaian (evaluasi). Kenaikan tingkat cukup ditandai dengan bergantinya kitab yang dipelajari. Santri sendiri yang mengukur dan menilai, yaitu apakah ia cvukup menguasai bahan yang lalu dan mampu untuk mengikuti pengajian kitab berikutnya. Masa belajar tidak ditentukan waktu tamat tidak dibatasi sehingga memberikan kelonggaran pada santri untuk meninggalkan pesantren setelah merasa puas terhadap ilmu yang telah diperolehnya dan merasa siap terjun di masyarakat.

Kemampuan akademik bagi pesantren tidak ditentukan berdasarkan angka-angka yang diberikan oleh guru dan secara formal diakui oleh institusi pendidikan yang bersangkutan, tetapi ditentukan oleh kemampuannya mengajar kitab-kitab atau ilmu-ilmu yang diperolehnya kepada orang lain, atau santri junior.  Dengan kata lain, potensi lulusan pendidikan pesantren langsung ditentukan oleh masyarakat konsumen.

Namun demikian, penilaian di pendidikan pesantren bisa juga dicermati dari beberapa apsek, diantara metode yangdigunakan. Metode sorogan dan bandongan secara didaktik metodik dalam konteks pencapaian hasil belajar terbukti memiliki efektivitas dan signifikansi yang tinggi. Karena sistem ini memungkinkan seorang kyai atau guru mengawasi, menilai dan membimbing secara maksimal kemampuan  santri dalam menguasai materi belajar. Sedangkan efektifivitas sistem bandongan terletak pada urgensi praktis pencapaian kuantitas dan akselarasi kajian kitab, selain juga untuk tujuan kedekatan relasi santri-kyai. Pemakaian kedua metode ini secara inheren mengandung aktivitas evaluasi atau penialaian terhadap proses pembelajaran santri.

Dalam proses pembelajaran dengan kedua metode ini, kyai atau guru hanya bertugas mengajarkan berbagai materi untuk berbagai tingkat pengajaran. Sedangkan santri diberikan kebebasan untuk memilih kitab yang akan dikaji. Jika santri ingin mengikuti semua jenis pengajian yang diselenggarakan sudah tentu membutuhkan waktu cukup lama. Namun, struktur pengajaran ini tidak ditentukan oleh lama atau pendeknya masa seorang santri mesantren.

Santri tidak dituntut untuk menempuh ujian. Selama santri masih memerlukan bimbingan pengajian dari kyai atau gurunya, selama itu pula ia tidak merasakan adanya keharusan menyelesaikan masa belajarnya di pesantren dan kembali ke daerah masing-masing. Dengan demikian, kenaikan kelas atau tingkatan bagi para santri sangat bergantung kepada kemampuan mereka sendiri didalam mengikuti dan menamatkan program pengajaran dalam sebuah disiplin ilmu tertentu. Kenaikan kelas atau tingkatan dimaksud juga sangat bergantung kepada penilaian kyai atau guru, apakah santri itu setelah mengkhatamkan sesbuah kitab diperkenankan mengajarkannya kepada para santri junior atau tidak. Kenaikan kelas juga terkadang ditandai dengan diizinkannya santri mengikuti pengajian kitab lain yang lebih tinggi tingkatannya dalam tetapi masih dalam satu rumpun keilmuan.

Teks-teks kitab yang telah dipelajari oleh santri, akan dibaca ulang bersama-sama dengan kawan setelah mereka kembali ke kamar masing-masing atau kadang-kadang di depan kyai atau guru, sampai benar-benar dimengerti dan dijadikan pedoman berfikir dan bertingkah laku. Mereka dituntut untuk mengaplikasikan pelajaran yang diterimanya sehingga kitab-kitab itu merupakan himpunan kodifikasi tata nilai yang dianut oleh masyarakat pesantren. Sehingga pemberian pengajian oleh kyai kepada santrinya bisa merupakan proses pembentukan tata nilai Islam yang terwujud dalam tingkah laku sehari-hari mulai dari cara-cara melakukan ibadah ritual sampai kepada ketentuan-ketentuan tata pergaulan masyarakat. Dan, kyai dalam hal ini merupakan personifikasi utuh dari sistem tata nilai itu yang juga turut melengkapi kedudukan kitab tersebut. Inilah kemudian yang disebut pola kehidupan santri.[39]

Evaluasi pendidikan pesantren cenderung kepada proses penilaian terhadap bagaimana cara santri mengaplikasikan tata milai yang terdapat di dalam kitab-kitab yang telah mereka pelajari bersama-sama dengan kyai atau guru mereka.  Aplikasi tata nilai terutama mengarah kepada bagaimana setiap santri mengamalkan ajaran agama Islam dalam bentuk ibadah ritual dan tata cara bergaul dengan sesama santri, pergaulan mereka dengan kyai,   keluarga kyai serta masyarakat umum di sekitar pesantren.  Evaluasi tidak mengutamakan pencapaia sekor secara tertulis dalam bentuk angka-angka.

H. OUTPUT

Out put pesantren yang tidak menjadi ulama atau santri yang karena sesuatu hal tidak bisa menyelesaikan pelajaran di pesantren, tidak tepat unuk dikatakan sebagai drop out bahkan dia bisa dianggap telah berhasil menjadi santri yang baik selama ia mampu berpegang pada tata nilai yang dipelajarinya di pesantren dalam kehidupannya di masyarakat. [40]

Santri-santri yang merasa dirinya cukup menimba ilmunya di pesantren atau karena ketiadaan biaya, pulang ke daerah asal mereka masing-masing. Diantaranya ada yang mendirikan pesantren baru untuk menyebarkan ajaran agama Islam, dan ada yang menjadi da’i yang giat berdakwah.[41]

Ada juga santri yang melanjutkan belajarnya di pesantren lain. Menurut kebiasaan pesantren, berpindahnya santri dari satu pesantren ke pesantren lainnya adalah menunjukkan adanya semangat yang tinggi dari santri untuk mencari ilmu pengetahuan, walaupun demikian tidak lepas dari adanya berbagai alasan  tertentu seperti :

  1. ingin mempelajari kitab-kitab lain yang membahas ilmu-ilmu keislaman secara lebih mendalam dari kyai pengasuh pesantren yang akan dituju.
  2. ingin memperoleh pengalaman baru mengenai kehidupan pesantren baik dalam bidang pengajaran, keorganisasian, ataupun sosial kemasyyarakatan dari pesantren-pesantren yang tergolong terkenal dan besar.
  3. ingin memusatkan studi di pesantren tanpa disibukkan oleh kewajiban sehari-hari di dumah keluarganya dan keinginan untuk dapat mengatasi keinginan untuk pulang yang relatif sering diatasi karena jarak antara rumah dan pesantren yang  jauh.[42]

I. OUTCOME

Dorongan mendirikan pesantren demikian juga kyainya mengajar dan santrinya belajar adalah semata-mata untuk ibadah kepada Allah SWT.  Dan pada umunmya tidak dikaitkan dengan tujuan atau kepentingan tertentu seperti lapangan pekerjaan dan jabatan tertentu dalam hirarki sosial atau birokrasi pemerintahan. Oleh karena itu kesempatan kerja hampir-hampir tidak pernah dipersoalkan oleh kalangan pesantren, termasuk santri atau alumni pesantren.

Motivasi hampir sebagaian besar para orang tua santri yang menitipkan pendidikan anak-anaknya di pesantren, adalah agar  putra putri merek amenjadi anak yang saleh dan berguna bagi nusa, bangsa dan agama. Tujuan khusus untuk jabatan tertentu di kemudian hari pada umumnya tidak pernah disebut-sebut. Kalau toh ada tokoh yangdisebut untuk personifikasi bagi tujuan pendidikan anaknya, umumnya ialah tokoh ulama atau pemimpin Islam.

Gambaran yang lebih jelas tentang hal ini, seperti dilaporkan LP3ES  misalnya, adalah tentang motivasi orang tua santri menitipkan putra putri mereka ke sebuah pesantren di daerah Bogor. Adapun tujuan para orang tua santri adalah  sebagai berikut :

  1. menginginkan anak-anak mereka menjadi ulama dan ahli agama
    1. agar setamat mereka dari pesantren dapat berdiri sendiri
    2. agar mereka kelak menjadi guru agama
    3. agar mereka kelak menjadi orang yang beragama dan ahli agama
    4. agar kelak mereka menjadi orang yang beragama dan ahli agama, serta memiliki ketrampilan tertentu yang berguna bagi hidupnya.

Sejarah Indonesia mencatat, bahwa sebagai salah satu lembaga pendidikan yang memegang peranan penting dalam penyebaran ajaran agama (Islam) prinsip dasar pendidikan dan pengajaran pesantren adalah pendidikan rakyat. Dan, karena tujuannya memberikan pengetahuan tentang agama,  ia tidak memberikan pengetahuan umum.[43] Di sisi lain, perkembangan pendidikan pesantren  pada masa-masa setalah Indonesia meredeka sebagai lembaga pendidikan agama (Islam) telah mampu  melahirkan suatu  lapisan  masyarakat  dengan tingkat kesadaran dan pemahaman keagamaan (Islam)  yang relatif utuh dan lurus.[44]

Dalam kenyataan masyarakat Indonesia pendidikan pesantren dinyatakan telah melahirkan banyak ulama atau juga  anggota masyarakat yang menempati kedudukan-kedudukan penting dalam pemerintahan seperti DPR, MPR, DPA, Kabinet dan bahkan menduduki jabatan eksekutif seperti bupati, wali kota, gubernur dan presiden. Banyak pula yang menjadi pimpinan dalam berbagai ormas dan organisasi politik maupun LSM.

Demikian juga banyak alumni pondok pesantren yang menjadi pedagang besar atau pengusaha. Disamping, tentu saja, banyak alumni pondok pesantren yang menjadi guru agama, dosen, dan pegawai negeri sipil dan tentara nansional. Di daerah-daerah pedesaan kebanyakan alumni pesantren kebanyakan menjadi nelayan, petani dan pedagang. Banyak pula dari kalangan pesantren yang menjadi penguasaha  sukses. Hanya saja mereka tumbuh dan mencari-cari jalan secara sendiri. Mereka umumnya tumbuh dan berkembang secara otodidak. Karena ketrampilan enterpreneurship tidak dikoordinir di dalam pendidikan pesantren.

J. Feed Forword

Kesadaran akan kekurangan atau kelemahan dari pendidikan pesantren akhir-akhir ini mulai dirasakan. Hal itu sangat urgen dan mendesak apabila  sama-sama menyadari bahwa potensi pesantren sesungguhnya adalah sangat besar. Baik dari segi jumlah santri pesantren yang sangat besar, letak geografis pesantren yang umumnya di daerah pedesaan, potensi alam dan lingkungan masyarakat di sekelilingnya yang umumnya memiliki ketrampiulan tertentu sperti: pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan/tambak, kelautan, kerajinan/indutsri kecil dan menengah, dan sebagainya. Disamping itu, karena peranannya dalam melahirkan manusia yang religius, dapat dipercaya dan berwatak sosial.

Langlah pertama yang diperlukan untuk mengatasi hal itu barangkali adalah dengan menyamakan persepsi dab kesadaran akan aspek-aspek konstruktif pendidikan pesantren dan peranannya dewasa ini, terutama penciptaan perasaan tanggungjawab sosial ekonomi yang dimiliki pesantren. Kesadaran ini mula-mula musti dimiliki oleh keluarga besar pesantren, guna lebih memberikan pengertian mendalam atas tugas-tugas yang dipikul pesantren untuk turut mengembangkan kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik dan sejahtera, terutama bagi para santri dan alumni pesantren sebagai warga negara yang kreatif, produktif, dan mandiri.

Kesadaran  akan potensi yang dimiliki pesantren akan lebih berguna apabila dibarengi dengan kesadaran akan beberapa kelemahan dan kekurangan yang ada dalam pendidikan pesantren. Diantara kekurangan pesantren yang harus diperbaiki adalah masalah organisasi dan manajemen pesantren, pola kebudayaan pesantren yang eksklusif, kesehatan (sanitasi dan gizi), dan sistem nonklasikal yang bebas.

Sedangkan hambatan-hambatan lain yang juga musti disadari betul oleh pesantren dalam kerangka perbaikan adalah: hambatan psikologis, hambatan politis, hambatan paedagogis, dan hambatan pembiayaan yang dihadapi pendidikan pesantren. Pendidikan pesantren memang sangat bergantung kepada tiga hal. Pertama, identitas pesantren. Kedua, pilihan program yang dikelola.  Ketiga, pemeliharaan terhadap  resources baik yang bersifat internal maupun eksternal.[45] (SUTEJA)


[1] Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren (Jakarta : INIS, 1994), h. 55.

[2] Abdurrahman Mas’ud, “Sejarah dan Budaya Pesantren”, dalam, Ismail Huda SM, ed., Dinamika Pesantren dan Madrasah (Yogjakarta : Pustaka Pelajar, 2002), h. 3.

[3] Kafrawi, Pembaharuan SistimPendidikan Pondok Pesantren sebagai Usaha Peningkatan Prestasi Kerja dan Pembinaan Kesatuan Bangsa (Jakarta : Cemara Indah, 1978), h. 17.

[4] Abdurrahman Wahid, Bunga Rampai Pesantren (Jakarta : Dharma Bhakti, 1399 H.), h. 52.

[5] Marwan Saridjo, Sejarah Pondok Pesantren (Jakarta : Dharma Bhakti, 1982), h. 25.

[6] Abu Bakar Atjeh, seperti dinukil Marwan,  melukiskan bahwa pesantren Giri Kedaton sebagai pesantren yang termasyhur di wilayah Jawa Timur. Para santri yang datang untuk belajar di sana berasal dari daerah yang sangat beragam seperti : Madura, Lombok, Bima, Makasar, dan Ternate (Halmahera), selain daeri daerah-daerah di Jawa Timur sendiri. Sampai dengan abad ke-17 M. pesantren ini masih tetapharum dan didatangi oleh para santri untuk menimba ilmu agama Islam di sana. (Marwan Saridjo, h. 25).

[7] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta : Dharma Bhakti, 1982), h. 257.

[8] Marwan Saridjo Op. Cit., h. 27.

[9] Mahmud Yunus, Op. Cit., h. h. 257.

[10] Lihat Ensiklopedi Islam (Jakarta : Ikhtiar Baru, 1993).

[11] Abdurrahman Saleh, dkk.,  Pedoman Pembinaan Pondok Pesantren (Jakarta : Binbaga Islam, 1982), h. 6.

[12] Abu Bakar & Shohib Salam, “ Pesantren Babakan Memangku Tradisi dalam Abad Modern “, dalam, Agus Sufihat, dkk., Aksi-Refleksi Khidmah NahdhatulUlama 65 Tahun (Bandung : PW NU Jawa Barat, 1991), h. 44.

[13] M. Natsir, Islam dan Kristen di Indonesia (Jakarta : Bulan Bintang, 1969), h. 21.

[14] Slamet  Effendy Yusuf, dkk., Dinamika Kaum Santri Menelusuri Jejak dan Pergolakan internal NU (Jakarta : Rajawali, 1983), h. 4.

[15] Ibid., h. 4.

[16] Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren (Jakarta : LP3ES, 1982), h. 85

[17] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam (Bandung : Remaja Rosda Karya, 1992), h. 194.

[18] Abdurrahman Mas’ud, Sejarah dan Budaya Pesantren, h. 20.

[19] Slamet, Op. Cit., h. 4.

[20] Djumhur, I, Sejarah Pendidikan (Bandung : CV Ilmu, 1976, cetakan ke-6), h. 111-112.

[21] Mastuhu, Op. Cit., h. 55-56.

[22] Dawam Rahardjo, Pesantren dan Pemebaharuan (Jakarta : LP3ES, 1988), h. 7.

[23] Ibid.., h. 27.

[24] al-Jurjani, Ta’lim al-Muta’allim fi Thariq al-Ta’limwa al-Ta’allum, h. 3.

[25] Abdurrahman Wahid, Op. Cit., h. 42.

[26] Zamakhsyari Dzofir, Tradisi Pesantren (Jakarta : LP3S, 1985), h. 101.

[27] Sudjoko Prasojo,et. Al., Profil Pesantren: Laporan Hasil Pesantren al-Falah dan Delapan Pesantren Lain di Bogor, Jakarta, LP3ES , 1982, h. 53.

[28] Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, Jakarta, LP3ES, 1982, h. 50.

[29] Zamakhsyari, Tradisi Pesantren, h. 56.

[30] Steenbrink, Karel A., Pesantren, Madrasah, Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurun Modern, Jakarta, LP3ES, 1986, h. 146.

[31] Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren , h. 6.

[32] Zamakhsyari, Tradisi Pesantren, h. 44.

[33] Masdar Farid Mas’udi, “Mengenal Pemikiran Kitab Kuning”, dalam Dawam Rahardjo, Pergulatan Dunia Pesantren: Membangun dari Bawah, Jakarta, LP3ES, 1985, h. 55.

[34] Marwan Saridjo, dkk., Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia , Jakarta, Dharma Bhakti, 1982, h. 32.

[35] Sudjoko Prasojo, Profil Pesantren, 1982, h. 53.

[36] Marwan Saridjo, dkk., Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia, h. 32.

[37] Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, Jakarta, INIS, 1994, h. 61.

[38] KH. Cholil Bisri, “Kekerasan Politik dan Agama”, dalam Ahmad Suaedy, ed.,  Plurasime, Konflik dan Pendidikan Agama di Indonesia, Yogjakarta, Interfidel, 2001, h. 139.

[39] Abdurrahman Wahid, Bunga Rampai Pesantren, h. 36.

[40] Abdurrahman Wahid,Bunga Rampai Pesantren , Jakarta, Dharma Bhakti, t.th., h. 23.

[41] Departemen Agama RI,  Standardisasi Pengajaran Agama di Pondok Pesantren, Jakarta, Dirjen Bimbaga Islam ,1985, h. 3.

[42] Zamakhsyari, Tradisi Pesantren, h. 52.

[43] Djumhur, I, Sejarah Pendidikan (Bandung : CV Ilmu, 1976, cetakan ke-6), h. 111-112.

[44] Slamet, Op. Cit., h. 4.

[45] Nasihin Hasan, “Karakter dan Fungsi Pesantren”, dalam Mastuhu, Dinamika Pesantren, h. 114.

Distribusi       (Status & Fungsi)

About hajisuteja

Alumni IAIN Sunan Ampel (S2) Alumni UIN SGD Bandung (S3) Dosen IAIN CIREBON
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s