ISLAM DAN FILSAFAT ILMU

ISLAM DAN FILSAFAT ILMU

A. PENGANTAR

Kemunculan ilmu pengetahuan Eropa bermula pada akhir abad keenam (VI) dan kelima (V) sebelum Masehi, ketika failosof-failosof Yunani menempati pantai dan pulau-pula Meditarenian Timur.[1] Pada masa sebelumnya peradaban Mesir Kuno, Mesopotania, India dan Belahan Dunia Barat tidak peduli terhadap ilmu. Di Eropa ilmu mendapatkan kemajuan yang berkesinambungan selama 500 tahun, kendatipun pada sebagian periode tersebut ilmu mendapat perhatian yang lebih sedikit di kalangan elite budaya.

Eropa mulai mengenal karya-karya mereka meskipun melalui cuplikan-cuplikan atau nukilan-nukilan singkat yang dibuat oleh para pengarang yang hidup belakangan. Seleksi-seleksi pun dilakukan sehingga menjadikannya tampak lebih rasional dan lebih ilmiah daripada hanya sekedar pembenaran. Namun demikian, tampaknya para failosof Yunani lebih tertarik kepada penjelasan tentang fenomena pencerahan inderawi daripada mengedepankan Konsep-konsep praktis. Sejak saat itulah, mulai  terjadi keterputusan budaya mitologis dengan kebudayaan mereka sendiri dan budaya kuno yang mendahuluinya.  Dalam keadaan demikian, mereka dipandang telah memposisikan diri sebagai perintis kemajuan ilmu pengetahuan dan sikap ilmiah Eropa modern.

Penghujung abad kelima sebelum Masehi mulai adanya penyelidikan yang lebih canggih. Tetapi, masih berupa penjelasan-penjelasan spekulatif mengenai fenomena akal sehat ketimbang argumen yang benar-benar teknis tentang pengalaman-pengalaman yang muncul. Ada dua disiplin yang dipelajari pada waktu dan mendekati kematangannya, yaitu ilmu kedokteran dan matematika.

Romawi menjelang akhir periode pra-Kristen memiliki perhatian yang besar terhadap berbagai disiplin keilmuan tetapi  tidak diimbangi dengan kekuatan melahirkan seorangpun ilmuwan dari bangsa Romawi. Keadaan demikian disebabkan asumsi yang naif bangsa Romawi terhadap ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan, bagi mereka, hanya cocok untuk spekulasi yang  bersifat sementara (causal speculation) dan cocok untuk teknik-teknik praktis. Penyebab  lain yang dicoba dianalisis para ahli adalah soal kentalnya tradisi magic masyarakat Romawi dan sistem perbudakan yang menghambat bagi inovasi undustri.

Peradaban Yunani-Romawi mencapai penggenapan siklusnya pada sekitar tahun 1.000 M. Setengah abad berikutnya di Eropa sering disebut Abad Gelap (A Dark Age).  Di awal abad 11 M. sebagian besar orang terpelajar mengenal dan memahami ilmu kuno. Pada abad ke-12 M. dialami suatu proses pencerahan yang sebagian disebabkan oleh pergaulan dengan peradaban Islam yang lebih tinggi yang terdapat di Spanyol dan Palestina dan sebagian lagi disebabkan oleh  perkembangan berbagai kota dengan kelas atasnya yang melek huruf. Dari periode ini muncullah karangan-karangan spekulatif perdana tentang filsafat alamiah.

Abad ke-13 berdiri universitas-universitas dan zaman kebesaran pengetahuan skolastik. Thomas Aquinas dan Riger Bacon termasuk dalam zaman ini. Akan tetapi, dalam tahun 1350-an Eropa dilanda bencana ekonomi dan sosial. Filsafat alamiah dan fakta-fakta khusus dipelajari terutama yang berhubungan dengan agama.

B. Karakteristik Filsafat Ilmu

Filsafat dan ilmu yang dikenal di  dunia  Barat dewasa ini berasal dari zaman Yunani Kuno.[2] Filsafat  ilmu sampai tahun 1990-an telah berkembang begitu pesat sehingga menjadi satu bidang pengetahuan yang amat luas dan sangat mendalam.  Filsafat ilmu lazim dikenal sebagai sebuah kajian atau disiplin ilmu tentang ilmu pengetahuan..[3]

Sebagai sebuah disiplin, filsafat ilmu pertama-tama berusaha menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses penelitian ilmiah yaitu : prosedur-prosedur pengamatan, pola-pola argumen, metode-metode penyajian dan perhitungan, pengandaian-pengandaian metafisik dan seterusnya. Kemeudian mengevaluasi dasar-dasar validitasnya berdasarkan sudut pandang logika formal, metodologi praktis dan metafisika. Dalam bentuk kontemporer, filsafat ilmu kemudian menjadi disiplin yang setara dengan cabang-cabang filsafat lainnya seperti etika, logika, dan epistemology.

Di pertengahan abad ke-20 M. perdebatan dalam filsafat ilmu menjadi semakin mendalam, rumit dan kritis. Tema-tema utama perdebatan sebagian besar diperkenalkan dalam diskusi periode sekitar tahun 1900. Di Inggris dikembangkan teori-teori : possitivisme, empirisme, dan  teori-teori epistemologis tentang data-data indrawi. Di sisi lain, aliran yang lebih berorientasi aspek kesejarahan, terutama Marxis Kritis menekankan pengembangan dinamis karakter struktur-struktur dan hubungan-hubungan sosial.

C. SIKAP ISLAM TERHADAP FILSAFAT ILMU

Kebudayaan Islam adalah kebudayaan yang paling relevan bagi ilmu Eropa.[4] Hal demikian dikarenakan adanya kontak-kontak cultural yang intensif antara negara-negara Arab dengan Eropa Latin pada masa-masa yang menentukan.  Penaklukan yang dilakukan oleh para sahabat Nabi Muhammad SAW mulai abad ke-7 M. hingga abad ke-10 M. telah  membuat  bahasa Arab menjadi bahasa kaum terpelajar bagi bangsa-bangsa ‘ajam mulai dari Persia hingga Spanyol.  Disamping dibawanya kedamaian dan kemakmuran bagi negeri-negeri yang diduduki, seperti perpustakaan Cordova (Spanyol) yang  memiliki  500. 000  buah buku.

Kontak antara Islam dan Eropa Latin, dengan demikian, jelas-jelas berlangsung melalui Spanyol dimana kaum Kristiani dan Yahudi dapat bertindak sebagai perantara dan penterjemah. Mulai sejak abad ke-12 M. dilakukan penterjemahan secara besar-besaran dari kitab-kitab berbahasa Arab ke dalam bahasa Latin, mulai bidang astrologi dan mistik (tasawwuf) hingga bidang kedokteran dan akhirnya filsafat dan ilmu pengetahuan (sains). Rute lain, meskipun kecil, adalah Italia melalui hubungan dengan Tunisia.

Pengenalan Islam terhadap keilmuan Yunani merupakan ekspressi sangat meyakinkan betapa filsafat ilmu bagi keilmuan Islam tidak lagi sebagai perubahan yang mengagetkan dan apalgi menakutkan. Perkenalan dan kontak budaya antara Islam dengan budaya  dan Filsafat Yunani membawa perubahan besar yang sangat signifikan bagi kemajuan  keilmuan dan peradaban Islam pada umumnya.

Berbagai disiplin keilmuan Islam mulai bermunculan setelah para ulama dan cendekiawan muslim mengadopsi dan mereduksi Filsafat Yunani, baik dari jalur Plato ataupun Aristoteles. Jalur Plato melahirkan para pemikir dan failosof muslim yang termasyhur di dunia Islam bagian Timur  seperti : al-Kindi  (801-869 H./185-256 M.),         al-Farabi  (258-339 H./870-950 M), Ibn Sina  (370-428 H./980-1037 M.) dan Ibn Maskawaih  (330-421 H./ …. -1030 M.).  Sedangkan jalus Aristoteles melahirkan para pemikir dan failosof muslim yang termasyhur di dunia Islam bagian Barat seperti :  al-Ghazali (1058-1111 M./450 – 505 H.), Ibnu Thufail  (1110 M. /506 H.), Ibn Bajah  (….-1138 M./….-533 H.), Ibn Rusyd, (1126-1198 M. /  520-595 H. ), dan  lain-lain.

Apresiasi keagamaan terhadap filsafat ilmu pada masanya berhasil membawa keilmuan islam ke posisi terhormat, teristimewa ketika umat Islam mengalami zaman keemasan (the golden age) yaitu ketika pemerintahan dunia Islam dikendalikan oleh Banu ‘Abbasiyah yang berpusat di kota Bashrah. Tiga keilmuan besar yang sangat berkekuatan dan kekuatannya sampai sekarang masih sangat terasa adalah : Filsafat Islam, Teologi atau Ilmu Kalam, dan Tasawwuf Islam.

Penghormatan agama Islam terhadap Filsafat Ilmu bukanlah hal yang dibuat-buat. Cobalah kita renungkan dalam-dalam pendapat al-Kindi tentang hal itu. Dia mengatakan :  Filsafat adalah al-Haqq al-Awwal (Kebenaran Pertama alias Tuhan).  Filsafat tertinggi adalah filsafat tentang Tuhan. Filsafat tidak bertentangan dengan al-Quran, karena  al-Quran meyakinkan argumen filsafat dan  filsafat adalah pengetahuan tentang yang benar, dan tujuan al-Quran adalah penjelas terhadapnya.

Penghargaan yang lebih tinggi lagi dapat disimak dari pendapat al-Farabi tentang akal sebagai pusat dan kekuatan dari Filsafat Ilmu. Dia menyatakan : Tuhan adalah akal fikiran, bukan benda (materi). Proses terjadinya penciptaan alam adalah karena Akal Pertama (Tuhan) melimpah dari-Nya akal kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam dan seterusnya sampai akal kesepuluh.

Lebih lanjut  Ibn Sina menegaskan bahwa, Tuhan berfikir sebagai sebab adanya/terjadinya alam. Wujud pertama ciptaan Tuhan adalah akal pertama. Akal pertama berfikir, maka terciptalah akal kedua (falak al-Aqsha) dan Akal kedua  berfikir,  maka terciptalah akal ketiga (falak al-Tsawabit).

D. KESIMPULAN

Pandangan  agama (Islam) terhadap Filsafat Ilmu adalah identik dengan pandangan dan penghormatan terhadap akal fikiran. Karena, filsafat ilmu merupakan produk akal fikiran dan agama (Islam) sangat menghargai dan memposisikan akal fikiran pada tempat yang paling tinggi dan terhormat.

Persoalan “Filsafat Ilmu dalam Perspektif Agama (Islam)” adalah bukan persoalan justifikasi. Dalam pengertian, bukan persoalan hitam-putih (dalam bahasa hukum fiqih : halal-haram). Melainkan bagaimana memposisikan Filsafat Ilmu sebagai bagian dari aktivitas akal fikiran yang sesungguhnya bernilai Ibadah (‘Aqliyah). Mengingat, ber-filsafat ilmu adalah melakukan aktivitas berfikir. Berfikir adalah khithab pertama yang secara termaktub   di dalam ayat pertama yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW.


[1] Jerome R. Revertz, Filsafat Ilmu Sejarah & Ruang Lingkup Bahasan, terj.,  Yogjakarta,  Pustaka Pelajar, h. 7.

[2] The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, Yogjakarta : Liberti, 200, h. 1.

[3] Ibid., h. 65.

[4] Ravertz, Op. Cit., h. 19.

About hajisuteja

Alumni IAIN Sunan Ampel (S2) Alumni UIN SGD Bandung (S3) Dosen IAIN CIREBON
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s