PROPOSAL ISLAM LOKAL CIREBON (SUTEJO IBNU PAKAR)

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Pesantren, menurut Mastuhu, adalah adalah lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari, memahami, mendalami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya modal keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari.[1] Pengertian tradisional di sini menunjuk bahwa pesantren sebagai lembaga pendidikan agama (Islam) telah hidup sejak 300 – 500 tahun lalu dan telah menjadi bagian yang mengakar dalam kehidupan sebagian besar umat Islam Indonesia, dan telah mengalami perubahan dari masa ke masa. Tradisional bukan berarti tetap tanpa mengalami perubahan.

Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang unik di Indonesia.[2] Lembaga pendidikan ini telah berkembang khususnya di Jawa selama berabad-abad. Pesantren sebagai lembaga pendidikan dan pusat penyebaran agama Islam lahir dan berkembang semenjak masa-masa permulaan kedatangan agama Islam di Nusantara. Lembaga ini berdiri untuk pertama kalinya di zaman Wali Songo. Syaikh Mawlana Malik Ibrahim atau Mawlana Maghribi (w.1419 M.) dianggap sebagai pendiri pesantren yang pertama di Jawa.[3] Syaikh Mawlana Malik Ibrahim  dipandang  sebagai Spiritual Father Wali Songo, gurunya guru tradisi pesantren di tanah Jawa.[4]

Menyusul kemudian pesantren Sunan Ampel di daerah Kembangkuning  Ampel Denta Surabaya, yang pada mulanya hanya memiliki tiga orang santri atau murid.[5] Pesantren Sunan Ampel inilah yang melahirkan kader-kader Wali Songo seperti Sunan Giri (Raden Paku atau Raden Samudro). Sunan Giri setelah tamat berguru kepada Sunan Ampel dan ayahandanya sendiri  (Mawlana Ishak)   kemudian mendirikan pesantren di Desa Sidomukti Gresik.  Pesantren itu sekarang lebih dikenal dengan sebutan Pesantren Giri Kedaton.[6]

Raden Fatah adalah juga murid Sunan Ampel. Setelah mendapatkan ijazah dari sang guru ia mendirikan pesantren di Desa Glagah Wangi, sebelah Selatan Jepara (1475 M.). Di Pesantren ini pengajarannya terfokus kepada ajaran tasawwuf para  wali  dengan sumber utama Suluk Sunan Bonang (tulisan tangan para wali). Sedangkan kitab yang dipergunakan adalah Tafsir al-Jalalayn.[7] Ketika Demak dipimpin oleh Sultan Trenggono (memerintah 1521 – 1546)  Fatahillah (Fadhilah Khan) yang dipandang ‘alim dan dihormati masyarakat dipercaya untuk mendirikan pesantren di Demak.[8] Setelah perpindahan kekuasaan dari Demak ke Pajang dalam tahun 1568, kalangan kerajaan tetap mempelopori langsung pendirian masjid dan pondok pesantren. Setelah pusat kerajaan Islam berpindah lagi dari Pajang ke Mataram, dalam tahun 1588 M., perhatian untuk memajukan pondok pesantren semakin besar.

Satu abad setelah masa Wali Songo, abad 17, Mataram memperkuat pengaruh ajaran para wali. Setelah berhasil mempersatukan Jawa Timur dan Mataram, serta daerah-daerah lain,   Sultan Agung, yang dikenal sebagai Sultan Abdurrahman dan Khalifatullah Sayyidina Penotogomo ing Tanah Jawi (memerintah 1613-1645 M.) sejak tahun 1630 M. mencurahkan perhatian membangun negaranya dan lebih mengaktifkan kebudayaan dan pendidikan. Pada  masa pemerintahan Sultan Agung ini pendidikan pesantren mulai tampak kemajuan dengan diselenggarakannya  empat macam bentuk pondok pesantren, yaitu :   tingkat pengajian al-Quran, tingkat pengajian kitab, tingkat pesantren besar, dan tingkat pengajian tingkat khusus (takhshush) dengan spesialisasi cabang ilmu tertentu,  serta  pengajian tafsir, hadits, dan  tarekat.[9] Tingkat atau kelas ini disebut pesantren tariqat.[10] Kenyataan ini identik dengan dinamika dan kemajuan yang dinikmati Madrasah Nidzamiyah


[1] Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren (Jakarta : INIS, 1994), h. 55.

[2] Abdurrahman Mas’ud, “Sejarah dan Budaya Pesantren”, dalam, Ismail Huda SM, ed., Dinamika Pesantren dan Madrasah (Yogjakarta : Pustaka Pelajar, 2002), h. 3.

[3] Kafrawi, Pembaharuan SistimPendidikan Pondok Pesantren sebagai Usaha Peningkatan Prestasi Kerja dan Pembinaan Kesatuan Bangsa (Jakarta : Cemara Indah, 1978), h. 17.

[4] Abdurrahman Wahid, Bunga Rampai Pesantren (Jakarta : Dharma Bhakti, 1399 H.), h. 52.

[5] Marwan Saridjo, Sejarah Pondok Pesantren (Jakarta : Dharma Bhakti, 1982), h. 25.

[6] Abu Bakar Atjeh, seperti dinukil Marwan,  melukiskan bahwa pesantren Giri Kedaton sebagai pesantren yang termasyhur di wilayah Jawa Timur. Para santri yang datang untuk belajar di sana berasal dari daerah yang sangat beragam seperti : Madura, Lombok, Bima, Makasar, dan Ternate (Halmahera), selain daeri daerah-daerah di Jawa Timur sendiri. Sampai dengan abad ke-17 M. pesantren ini masih tetapharum dan didatangi oleh para santri untuk menimba ilmu agama Islam di sana. (Marwan Saridjo, h. 25).

[7] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta : Dharma Bhakti, 1982), h. 257.

[8] Marwan Saridjo Op. Cit., h. 27.

[9] Mahmud Yunus, Op. Cit., h. h. 257.

[10] Lihat Ensiklopedi Islam (Jakarta : Ikhtiar Baru, 1993).

Baghdad ketika pada masa-masa keemasannya di bawah kepemimpinan al-Ghazali.

Hal baru yang sangat menarik adalah inisiatif Sultan Agung untuk memperhatikan pendidikan pesantren secara lebih serius. Dia menyediakan tanah perdikan bagi kaum santri serta memberi iklim sehat bagi kehidupan intelektualisme keagamaan (Islam) hingga mereka berhasil mengembangkan tidak kurang dari 300 buah pondok pesantren.[1] Tempat belajar biasanya di serambi masjid dan mereka umumnya mondok. Kitab-kitab yang dipelajari karangan seorang ulama  Persia, Mawlana Ibrahim al-Samarqandi, Fath al-Qarib karya Abu al-Qasim al-Ghazi, dan Bidayah al-Hidayah karya al-Ghazali. Waktu belajar pagi hari, tengah hari dan malam hari. Sistem atau metode yang digunakan ialah metode sorogan. Pada Pesantren Besar diajarkan kitab-kitab model  syarh dan hasyiyah dalam berbagai macam disiplin ilmu seperti fiqh, tawhid, hadits, kalam, tasawuf, nahwu, sharaf, dan lain-lain. Tenaga pengajar atau gurunya adalah ulama dari kerajaan yang disebut Kyai Sepuh atau Kanjeng Kyai. Sedangkan pada pesantren takhashush para santri memperdalam suatu cabang ilmu  tertentu misalnya hadits, tafsir, atau tariqat.

Pada tahap-tahap pertama pendidikan pesantren memang masih memfokuskan dirinya  kepada upaya pemantapan iman dengan latihan-latihan ketarikatan daripada menjadikan dirinya sebagai pusat pendalaman Islam sebagai ilmu pengetahuan atau wawasan.  Sebagai contoh Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon. Pesantren tertua di Jawa Barat ini  didirikan pada tahun 1817 oleh Ki Jatira (salah seorang murid Maulana Yusuf dan sekaligus  utusan Kesultanan “Hasanuddin” Banten).  Seperti banyak dikemukakan dalam perjalanan sejarah, bahwa seputar abad ke-17 dan 18 M., dimana pesantren mulai dirintis, kondisi masyarakat pada umumnya masih demikian kental dengan tradisi mistik yang kuat.[2]

Eksistensi pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan Islam mistik saat itu  dikarenakan oleh sebab-sebab  yang berasal dari  luar pesantren.  Sebab-sebab  dimaksud adalah  langkanya literatur keislaman di Jawa ketika itu sebagai konsekuensi logis dari  kurangnya kontak antar umat Islam di Jawa dengan Timur Tengah, yang disebabkan oleh politik pecah belah Belanda yang tengah berusah keras  menunjang penyebaran agama Kristen di Nusantara.[3]

Pesantren dalam bentuknya semula tidak dapat disamakan dengan lembaga pendidikan madrasah atau sekolah seperti yang dikenal sekarang ini.  Perkembangan selanjutnya menunjukkan pesantren sebagai satu-satunya lembaga pendidikan tradisional yang tampil dan berperan sebagai pusat penyebaran sekaligus pendalaman agama Islam bagi pemeluknya secara terarah.[4]

Abad ke-19 M. adalah abad permulaan adanya kontak umat Islam di Indonesia dengan dunia Islam, termasuk  Timur Tengah. Selain kontak melalui jamaah haji Indonesia, juga melalui sejumlah pemuda Indonesia yang belajar di Timur Tengah (Makkah).  Mereka sebagian besar berasal dari keluarga pesantren.[5] Di antara mereka yang sukses secara gemilang adalah Syaikh Nawawi Tanara Banten (w. 1897 M.),  Syaikh Mahfudz al-Tirmisi (w. 1919 M.),  Syaikh Ahmad Chothib Sambas (asal Kalimantan),  dan Kiai Cholil Bangkalan (w. 1924 M.). Pada abad ke-19 M. mereka adalah orang-orang yang mengisi kedudukan sebagai  imam dan pengajar di Masjid Haram Makkah al-Mukarromah.[6]

Generasi pertama  itu kemudian melahirkan para santri sebagai murid langsung, yang selanjutnya dikenal sebagai generasi kedua dalam jajaran pelopor dan pendiri pesantren di Jawa dan Madura.  Mereka adalah  KH. A. Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang (1871-1947 M.),  KH. Abdul Wahab Hasbullah (Surabaya),   dan KH. Bisyri Syamsuri.

Pada tahun 1899 M.,   KH. A. Hasyim Asy’ari mendirikan Pesantren Tebuireng.  Pesantren itu  menawarkan panorama yang berbeda dari pesantren-pesantren sebelumnya. Ia mencoba merefleksikan hubungan berbabagai dimenasi yang mencakup ideologi, kebudayaan serta pendidikan.[7] Pendirian pesantren ini dipandang sebagai upaya penting komunitas pesantren karena mulai memperlihatkan sikap pesantren menentang hegemoni penjajah. Boleh dijuga diasumsikan motivasi politik yang ditujukan Pesantren Tebuireng adalah manifestasi kesadaran diri dan percaya diri paling tertinggi dari kaum pesantren.[8]

Pada wal abad ke-20 M., Pesantren Tebuireng di bawah pimpinan  KH. A. Wahid Hasyim  yakni  sejak tahun 1916 M  KH. A. Wahid Hasyim telah berhasil melakukan perubahan  yang radikal  secara kelembagaan berkenaan dengan kurikulum pesantren.  Dia memasukkan pendidikan persekolahan (komunitas pesantren menyebutnya sistem madrasi) dengan mendirikan Madrasah Nidzamiyah di dalam lingkungan pesantren.  Di madrasah itu diajarkan berbagai mata pelajaran yang oleh seluruh komunitas pesantren saat itu dihukumi haram dan yang mempelajarinya divonis kafir. Mata pelajaran yang dimaskud  adalah :  Berhitung, Ilmu Bumi, Sejarah, Bahasa Melayu, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Belanda.

Perkembangan pada masa-masa selanjutnya berhasil mencatat pesantren sebagai lembaga pendidikan agama (Islam) yang mampu melahirkan suatu  lapisan  masyarakat  dengan tingkat kesadaran dan pemahaman keagamaan (Islam)  yang relatif utuh dan lurus.[9] Di sisi lain,  sebagai salah satu lembaga pendidikan yang memegang peranan penting dalam penyebaran ajaran agama (Islam) prinsip dasar pendidikan dan pengajaran pesantren adalah pendidikan rakyat. Dan, karena tujuannya memberikan pengetahuan tentang agama,  ia tidak memberikan pengetahuan umum.[10]

Pengajaran Islam di Cirebon, termasuk pendidikan pesantren, memang belum setua  ataupun sampai pada tingkat perbandingan yang sama dengan di Aceh. Namun, ada dasar yang sukup untuk berasumsi bahwa tradisi pembelajaran Islam di Cirebon bukanlah sesuatu yang baru. [11] Cirebon sangat disegani adalah karena reputasinya sebagai daerah pusat pembelajaran Islam yang amat dibanggakan. Reputasi ini sudah merebak sejak awal Islam di Jawa. Di samping itu, sebagai kota pesisir, Cirebon berpotensi menjadi “pusat penyebaran Islam bagi petani pedalaman”.[12]

Hampir seluruh catatan sejarah, menurut Muhaimin, selalu menghubungkan Cirebon dengan perkembangan Islam di Jawa, khususnya di Jawa Barat. Lahirnya kerajaan Islam di abad 15-16 menunjukkan arti penting Islam di Cirebon pada awal perkembangan Islam. Pendiri kerajaan Islam di Cirebon, yaitu Sunan Gunung Djati (Syarif Hidayatullah) adalah salah satu tokoh Walisongo.[13] Pada tahap awal itu, Cirebon adalah bagian yang tidak terpisahkan dari jaringan penyebaran Islam di Jawa.[14]

G.F. Pijper, dalam tulisannya, menyatakan Cirebon adalah daerah pesantren, kyai-kyai mempunyai pengaruh di kalangan rakyat hingga sekarang. Kehidupan keagamaan masih bersifat tradisional.[15] Di sini ulama aliran kolot mempunyai pengaruh besar di kalangan rakyat. Mereka itu guru-guru yang memberi pelajaran kepada para santri tentang ilmu fikih, ilmu tauhid atau ushuluddin, dan ilmu agama lainnya. Mereka adalah pemimpin agama yang sangat dihormati, disegani dan merupakan penasihat rakyat.[16]

Mukasyafah ‘Arifin Billah (MAB) adalah salah satu pondok pesantren di wilayah Kabupaten Cirebon yang mengajarkan doktrin tariqat kepada para santrinya dengan berpgang kepada kitab Bayt 12 karya Mbah Nuruddaroin sebnagai rujukan pertama dan  utama. Pada masa yang hampir bersamaan, berdasarkan penyelidikan sementara oleh pemerintah Belanda, dapat diketahui bahwa sepanjang tahun 1928 tariqat-tariqat Naqsyabandiyah, Qadiriyah, Syattariyah, Syadziliyah, dan Khalwatiyah  telah datang dan  dikenal di beberapa tempat di Kabupaten Cirebon, Brebes, Pekalongan, Tasikmalaya, dan Ciamis.[17] Dengan demikian, dapat dikemukakan bahwa kehadiran ajaran Muhammad Nuruddaroin  ( 1863-1947 M.) adalah ajaran yang hidup satu abad.

Pesantren Muhammad Nuruddaroin ini, di tangan generasi sesudahnya, sampai sekarang masih tetap dikenang dan relatif ternama karena konsistennya mengajarkan kitab Bayt 12 kepada santri di Pondok Pesantren  Mukasyafah ‘Arifin Billah (MAB), dan proses pembelajarannya yang mengutamakan pelatihan-pelatihan spiritual (riyadhah dan mujahadah) kepada para santri dan masyarakat di sekitarnya.

Bayt 12 ditulis oleh K. Abdul Hadi (dari Tunggul Jember) pada tahun 1919. Ia merupakan sahabat Nuruddaroin  yang juga sekaligus berperan sebagai sekretarisnya. Sejak saat itu, Bayt 12 dihafalkan oleh para sahabat dan pengikutnya di setiap pengajian. Pada perkembangan berikutnya, Bayt 12 ini diterbitkan pertama kalinya di Karangsari (Plumbon Cirebon) pada Tahun 1932, oleh Team yang terdiri dari K. Abdul Hadi (Jember), K. Azhari (Lampung), dan Muhammad Ishak (Cirebon). Sanjungan-sanjungan yang terdapat dalam Bayt 12 ditulis oleh  K. Abdul Hadi atas persetujuan K. Nuruddaroin sendiri.[18]

Ahmad Sahri, salah seorang cucu H. Mohammad Hambali, menegaskan bahwa ajaran pokok  Bayt 12 karya Mbah Nuruddaroin yang diajarkan kepada santri di Pondok Pesantren  Mukasyafah ‘Arifin Billah (MAB) adalah ajaran yang menyentuh dan berhubungan dengan kehidupan manusia secara langsung. Bayt 12 berisikan  tentang: (1)  proses penciptaan manusia yaitu mani lanang (sperma laki-laki), mani wadon (sperma perempuan), dan nyawa (ruh). Ketiga unsur itu akan sempurna  menjadi seorang manusia setelah adanya pertemuan unsur lanang (laki-laki atau bapa) dan unsur wadon (perempuan atau ibu), dan  (2)  proses pembinaan manusia menjadi sempurna yang dilambangkan dengan unsur uyah (garam), terasi dan cabe,  yang diuleg (diproses) di dalam cowet (tempat membuat sambel); Uleg yang dimaksud adalah proses riyâdhah dan mujâhadah dan cowet yang dimaksud  adalah alam dunia. Keharmonisan kelima unsur itu dalam bekerja akan menjamin adanya sambal, simbolisasi manusia sempurna.[19]

Nuruddaroin memposisikan aspek batiniah pada posisi paling tinggi dan harus diprioritaskan. Penghayatan terhadap ajaran agama disampaikannya dengan bahasa yang tidak mudah dimengerti, karena merupakan pengalaman ruhaniah yang bersifat subjektif. Tujuan hidup Nuruddaroin adalah mencapai maqâm mukâsyafah. Dia, menurut pengakuannya, dapat mengetahui Allah secara langsung dengan rohnya, karena diyakini rohnya benar-benar suci. [20]

Pemahaman semacam ini, jelas-jelas mencerminkan tujuan umum pembelajaran yang dilakukan aliran-aliran kebatinan yang ada dan hidup di Nusantara. Tujuan umum yang dimaksud adalah kehidupan duniawi yang damai dan kehidupan ukhrawi yang indah yaitu bersatunya manusia dengan Tuhan. Dalam tataran kehidupan praktis, aliran ini tentu lebih menekankan unsur batin atau kejiwaan yang berpangkal pada ruhaniah manusia.[21]

Pengalaman Muhammad Nuruddaroin  ketika mengalami peristiwa ma’rifah,  diyakini sebagai akibat dari  proses mujâhadah yang ia lalui dengan sebenarnya. Dalam hal demikian, sang guru ini diyakini sedang  musyâhadah atau sebah (bertemu menghadap pada  Allah),[22] Mujâhadah yang dimaksud, dalam pandangannya, adalah mengalami empat tingkatan  kematian, yaitu mati abang, mati putih, mati ijo, dan mati ireng.[23] Mati abang artinya mampu melawan seluruh keinginan nafsu dan tidak memiliki keinginan apapun selain Allah. Mati putih artinya berani menahan lapar. Mati ijo artinya sanggup meninggalkan kemewahan duniawi, kedudukan dan popularitas. Sedangkan yang dimaksud mati ireng adalah kesanggupan menahan diri dari segala caci maki dan celaan manusia. Seseorang yang telah sampai tahapan ma’rifah ini, menurut al-Ghazali, merasa yakin bahwa tidak ada sesuatupun yang bisa memberi faidah maupun bahaya kecuali Allah. [24]

Kematian-kematian itu, menunjukkan bahwa Nuruddaroin, bermaksud ingin mencapai tujuan tertinggi manusia, sebagaimana diajarkan Islam,  yaitu mengetahui Allah  dengan cara-cara yang tidak bisa dilampaui oleh kalangan ulama pada umumnya, yaitu kasyf. Karena, menurutnya, tahapan ma’rifah yang ditandai dengan kemampuan kasyf merupakan tahapan atau derajat tertinggi.

Muhammad  Nuruddaroin  sendiri sejak tahun 1919 M. sudah menyebarkan ajarannya dan berhasil mendirikan sebuah   pondok pesantren di Desa Kemuning Kecamatan Pakis Kabupaten  Jember Jawa Timur.  Dia menetap sampai  akhir hayatnya di Desa Karangsari Kecamatan Weru Kabupaten Cirebon.   Penyebaran ajaran Muhammad Nuruddaroin diklaim pengaruhnya mencapai  daerah Jawa Timur seperti  Kabupaten Jember,  Jawa Tengah meliputi Brebes, Tegal, dan Kutoarjo,  Jawa Barat meliputi Cirebon, Majalengka, Kuningan, Indramayu, Subang, Karawang dan Bandung, serta wilayah  Jakarta (Tanjung Priok). Tujuan pengajarannya, sebagaimana termaktub dalam Bayt 12,  adalah tercapainya maqam mukâsyafah dalam arti mengetahui Allah  dengan mata hati yang bersih dan suci.[25]

Hasil penelitian pada tahun 1979/1980 yang dilakukan Effendi S. Umar mahasiswa Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Gunung Djati Bandung menurunkan kesimpulan bahwa,   ajaran Muhammad Nuruddaroin adalah representasi aliran kepercayaan yang telah berubah nama menjadi aliran kebatinan.  Kesimpulan itu didasarkan atas penilaian Effendi S. Umar terhadap  doktrin  Muhammad Nuruddaroin yang lebih menekankan pada pembinaan aspek batiniah manusia dan “tidak” mengutamakan pembinaan dan peningkatan ajaran-ajaran Islam yang bersifat lahiriah kepada para santri dan pengikutnya. Atas dasar alasan yang relatif sama, hasil penelitian Tim Dosen STAIN Cirebon pada tahun 2000 juga menurunkan penilaian yang “negatif”. Ajaran Muhammad Nuruddaroin dinilai   sebagai salah satu bentuk penyimpangan ajaran agama Islam.  Ajaran itu tidak lain sebagai  bentuk sinkritisme ajaran Islam dengan aliran kejawen dan kebatinan, karena memasukkan unsur-unsur kepercayaan Hindu-Budha ke dalam kepercayaan seperti pembagian Malaikat Allah  menjadi malaikat baik dan malaikat jahat (syaythân).

Mencermati ajaran Syaikh Nuruddaroin, dan ajaran ulama-ulama  Ahlussunnah yang dijadikan rujukan, didapati beberapa persoalan yang di satu sisi memperlihatkan kedekatan, bisa jadi sebagai  pengembangan. Akan tetapi di sisi  lain  menampakkan  adanya pergeseran dari orsinalitas  ajaran tasawuf al-Ghazali dan kentalnya pengaruh tradisi atau budaya lokal khas Cirebon.

Tulisan ini mencoba melihat ajaran Bayt 12 bukan dari aspek kajian teologis atau disiplin tasawwuf Islam, melainkan darei aspek kependidikan. Dimana perhatian teruju kepada persoalan pendekatan dan metode pembelajaran yang digunakan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.

Pendidikan sistem pesantren mengutamakan pemahaman dan penghayatan santri terhadap isi dan kandungan kitab-kitab klasik yang dipelajarinya bersama-sama dengan kyai dalam sebuah proses pembelajaran. Ukuran keberhasilan seseorang santri adalah ditentukan oleh kemampuan dan kemauannya mengamalkan isi atau materi kitab-kitab yang telah dikajinya tersebut dalam pergaulan sehari-hari yang dimulai semenjak santri masih berada di dalam  lingkungan pondok pesantren.

Keberhasilan proses pembelajaran pendidikan pesantren adalah kesalehan para santrinya. Kesantrian dan kesalehan seseorang santri adalah diukur dari perilaku keseharian bersama-sama dengan kyai/ustadz dan sesama santri. Apakah santri telah mengamalkan isi atau materi pengajian kitab-kitab warisan para ulama sufi yang ditransformasikan secara terus menerus dan berkesinambungan semenjak zaman wali sanga sampai dengan sekarang ?

Perumusan Masalah

Ukuran keberhasilan pembelajaran pendidikan pesantren adalah kesalehan individual para santri (peserta belajar). Kesalehan individual yang dimaksud komunitas pesantren adalah perilaku-perilaku khas (akhlaq al-Karimah) masyarakat pesantren  yang lebih mengarah kepada pembinaan poptensi dan kualitas kepribadian santri dan belum mengarah kepada perialku sosial para santri. Misalnya akhlak : jujur dalam berkata, ikhlas dalam beramal, tawadhu’ dalam bersikap dan berperilaku, sabar dalam menghadapi cobaan hidup, tawakal (dalam arti menyerahkan sepenuhnya segala ketentuan hidup hanya kepada Allah) dan  qona’ah (dalam menerima segala ketentuan, nasib dan ketentuan Allah, terutama mengenai ma’isyah duniawiah).

Di zaman sekarang ini, masyarakat sebagai konsumen  dan sekaligus penilai kesalehan alumni pendidikan pesantren mendambakan dari santri dan alumni pendidikan pesantren  lebih dari sekadar kesalehan individual.  Faktor lingkungan belajar santri yang sangat dinamis dan berpengaruh  secara kuat terhadap tatanan nilai yang selama ini dianut oleh Pesantren Mukasyafah ‘Arifin Billah Desa Karangsari Kecamatan Plumbon Kabupaten Cirebon adalah tidak bisa diabaikan begitu saja tanpa diantisipasi  dan disikapi secara cermat dan tepat. Masalah yang muncul kemudian adalah terkait dengan kemungkin keberhasilan dan ketercapaian tujuan Pesantren dalam mewariskan nilai-nilai ajaran ulama sufi.

Permasalahannya kemudian adalah terkait dengan relevansi antara tujuan pembelajaran sistem pendidikan di Pondok Pesantren Mukasyafah ‘Arifin Billah Desa Karangsari Kecamatan Plumbon Kabupaten Cirebon dalam mencetak santri-santri yang memiliki kualitas kesalehan individual dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat terhadap alumni pesantren.  Dan, ketercapaian tujuan pewarisan nilai-nilai ajaran ulama sufi  yang telah menjadi tradisi ataupun mainstarim pesantren Mukasyafah ‘Arifin Billah.

A.    Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data tentang :

  1. Kitab-kitab yang Diajarkan dalam Proses Pembelajaran di Pondok Pesantren Mukasyafah ‘Arifin Billah Desa Karangsari Kecamatan Plumbon Kabupaten Cirebon.
  2. Materi yang Diberikan dalam Transformasi  Nilai Tasawwuf kepada Santri  Pondok Pesantren Mukasyafah ‘Arifin Billah Desa Karangsari Kecamatan Plumbon Kabupaten Cirebon.
  3. Profil Santri yang Diharapkan dalam Transformasi  Nilai Tasawwuf di  Pondok Pesantren Pondok Pesantren Mukasyafah ‘Arifin Billah Desa Karangsari Kecamatan Plumbon Kabupaten Cirebon.
  4. Interaksi antara Kyai dengan Santri Pondok Pesantren Mukasyafah ‘Arifin Billah Desa Karangsari Kecamatan Plumbon Kabupaten Cirebon.
B.    Asumsi-asumsi

Pendidikan pesantren memiliki berbagai macam dimensi : psikologis, filosofis, relijius, ekonomis, dan politis, sebagaimana dimensi-dimensi pendidikan pada umumnya.  Tetapi, bagi Dawam,[26] pesantren bukanlah semacam madrasah atau sekolah, walaupun di dalam lingkungan pesantren telah banyak pula didirikan unit pendidikan klasikal dan kursus-kursus. Berbeda dengan sekolah atau madrasah, pesantren memiliki  mempunyai kepemimpinan, ciri-ciri khusus dan semacam kepribadian yang diwarnai karakteristik pribadi kyai, unsur-unsur pimpinan pesantren, dan bahkan aliran keagamaan tertentu yang dianut.

Teks-teks kitab yang telah dipelajari oleh santri adalah warisan intelektual generasi ulama abad pertengahan yang sampai ke tangan para wali sanga, dan seterusnya kepada kyai-kyai pesantren. Mereka para santri  dituntut untuk mengaplikasikan pelajaran yang diterimanya sehingga kitab-kitab itu merupakan himpunan kodifikasi tata nilai yang dianut oleh masyarakat pesantren. Wali Sanga dan kyai Jawa adalah agent of social changer melalui pendekatan kultural. Ide cultural resistence juga mewarnai kehidupan intelektual pendidikan pesantren. Subjek yang diajarkan di lembaga ini adalah kitab klasik  yang   diolah dan ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikut, yang sekaligus merujuk kepada  ke-ampu-an kepemimpinan kyai-kyai.

Pemberian pengajian oleh kyai kepada santrinya bisa merupakan proses pembentukan tata nilai Islam yang terwujud dalam tingkah laku sehari-hari mulai dari cara-cara melakukan ibadah ritual sampai kepada ketentuan-ketentuan tata pergaulan masyarakat. Dan, kyai dalam hal ini merupakan personifikasi utuh dari sistem tata nilai itu yang juga turut melengkapi kedudukan kitab tersebut. Inilah kemudian yang disebut pola kehidupan santri.[27]

Isi pengajaran kitab-kitab itu menawarkan kesinambungan tradisi yang benar mempertahankan ilmu-ilmu agama dari sejak periode klasik dan pertengahan.  Memenuhi fungsi edukatif, materi yang diajarkan di pesantren bukan hanya memberi akses pada santri rujukan kehidupan keemasan warisan peradaban Islam masa lalu, tapi juga menunjukkan peran hidup yang mendambakan kedamaian, keharmonisan dengan masyarakat, lingkungan dan bersama  Tuhan.

Nuruddaroin memposisikan aspek batiniah pada posisi paling tinggi dan harus diprioritaskan. Penghayatan terhadap ajaran agama disampaikannya dengan bahasa yang tidak mudah dimengerti, karena merupakan pengalaman ruhaniah yang bersifat subjektif. Tujuan hidup Nuruddaroin adalah mencapai maqâm mukâsyafah. Dia, menurut pengakuannya, dapat mengetahui Allah secara langsung dengan rohnya, karena diyakini rohnya benar-benar suci. [28]

Pemahaman semacam ini, jelas-jelas mencerminkan tujuan umum pembelajaran aliran-aliran kebatinan yang ada dan hidup di Nusantara. Tujuan umum yang dimaksud adalah kehidupan duniawi yang damai dan kehidupan ukhrawi yang indah yaitu bersatunya manusia dengan Tuhan. Dalam tataran kehidupan praktis, aliran ini tentu lebih menekankan unsur batin atau kejiwaan yang berpangkal pada ruhaniah manusia.[29]

Tinjauan kependidikan memandang manusia sebagai makhluk sempurna karena  terdiri dari kesatuan yang utuh antara aspek-aspek:  fisik/jasmani, intelektual, mental spiritual, dan ruhani. Pendidikan bertugas  membantu kedewasaan peserta didik dalam wujud keseimbangan atau keharmonisan antara berbagai aspek kepribadian tersebut.

Proses pembelajaran atau transformasi nilai ajaran tasawwuf Bayt 12 Mohammad Nurudaroin dapat diasumsikan sebagai bentuk pembelajaran yang mengutamakan aspek “batiniah”  dan cenderung mengabaikan pembinaan aspek fisik dan aspek intelektual secara imbang. Dipandang dari sudut sasaran pembelajarannya, proses transformasi nilai di Pesantren Mukasyafah ‘Arifin Billah terlihat mengabaikan pendidikan ekonomi, sosial kemasyarakatan, dan pendidikan kebangsaan.

Manakala, proses pembelajaran di Pesantren Mukasyafah ‘Arifin Billah tetap bertahan dengan cita-cita dan semangat generasi terdahulu dan tidak berhasil melakukan modifikasi kreatif, dipastikan pesantren ini tidak mampu memberikan sumbangan konkrit bagi masyarakat sebagai konsumen dari produk pendidikannya. Alumni pendidikan pesantren tersebut, dipastikan tidak dapat memberikan  sumbangan yang konstruktif bagi masyarakat dan bangsanya yang sangat membutuhkan para santri dan alumni pondok pesantren yang saleh secara sosial, selain saleh secara indvidual.

C.    Pertanyaan Penelitian

Apakah Pewarisan Nilai-nilai Ajaran Ulama Sufi dalam Proses Pembelajaran di  Pondok Pesantren Mukasyafah ‘Arifin Billah Desa Karangsari Kecamatan Plumbon Kabupaten Cirebon dapat Dicapai secara maskimal dan masih relevan dengan kebutuhan masyarakat ? Untuk menjawab pertanyaan ini penulis dapat menurunkan beberapa pertanyaan sebagai berikut :

  1. Kitab Apa sajakah yang Diajarkan dalam Proses Pembelajaran di Pondok Pesantren Mukasyafah ‘Arifin Billah Desa Karangsari Kecamatan Plumbon Kabupaten Cirebon?
  2. Materi Apa sajakah yang Diberikan dalam Transformasi  Nilai Tasawwuf kepada Santri Pondok Pesantren Mukasyafah ‘Arifin Billah Desa Karangsari Kecamatan Plumbon Kabupaten Cirebon ?
  3. Bagaimanakah Profil Santri yang Diharapkan dari Transformasi  Nilai Tasawwuf kepada Santri di Pondok Pesantren Mukasyafah ‘Arifin Billah Desa Karangsari Kecamatan Plumbon Kabupaten Cirebon ?
  4. Bagaimanakah Interaksi antara Kyai dengan Santri Pondok Pesantren Mukasyafah ‘Arifin Billah Desa Karangsari Kecamatan Plumbon Kabupaten Cirebon?
D.    Metode Penelitian

Penelitian  terhadap pendidikan Pondok Pesantren Mukasyafah ‘Arifin Billah Desa Karangsari Kecamatan Plumbon Kabupaten Cirebon ini akan mengarah kepada aktivitas penelitian tentang  doktrin tasawwuf yang dianut dan dikembangkan, pengamalan, dan proses soosialisasi doktrin tersebut. Sehingga, analisis akan diarahkan kepada masalah : substansi ajaran atau doktrin, teori dan metode yang dapat dilacak rujukan atau referensinya, proses penelitian, dan  juga manfaat penelitian yang diharapkan dapat memberikan masukan bagi Pesantren.

Pewarisan nilai-nilai tasawwuf kepada para santri Pondok Pesantren Mukasyafah ‘Arifin Billah Desa Karangsari Kecamatan Plumbon mencerminkan suasana emosional dan sekaligus spiritual masyarakat pesantren. Suasana ini bisa jadi kemudian melahirkan masa-masa liminalitas berupa masa tidak menentu, kacau, ambigu, menghadapi cobaan atau tantangan, dan sebagainya.

Untuk itulah, penulis berhasrat mendekati permasalahan ini dengan bantuan disipilin  piskologi (Ilmu Jiwa) dengan harapan dapat memahami motif-motif, tanggapan-tanggapan, dan reaksi-reaksi dari keadaan psikis santri. Atau, sebab dan anya psikologis sikap atau pengalaman religius santri, dan berbagai fenomena yang muncul atau menyertai sikap pengalaman tersebut.

Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research). Adapun  teknik yang ditempuh adalah sebagai berikut :

  1. Penentuan Sumber Data.
    1. Sumber Data primer penelitian adalah para santri dan kyai/ustadz yang terlibat dalam proses pembelajaran di Pondok Pesantren Mukasyafah ‘Arifin Billah Desa Karangsari Kecamatan Plumbon Kabupaten Cirebon, serta rujukan yang berkait dengan masalah ini.

b. Sumber Data Skunder penelitian adalah para santri dan kyai/ustadz Pondok Pesantren Mukasyafah ‘Arifin Billah Desa Karangsari Kecamatan Plumbon Kabupaten Cirebon secara keseluruhan, dan masyarakat di sekitar lingkungan pondok pesantren.

  1. Penentuan Populasi dan Sampel Penelitian
  2. Populasi penelitian ini adalah seluruh komponen yang terlibat baik secara langsung ataupun tidak langsung dengan proses pewarisan nilai ajaran ulama sufi yang  diselenggarakan di Pondok Pesantren Mukasyafah ‘Arifin Billah Desa Karangsari Kecamatan Plumbon Kabupaten Cirebon.
  3. Sampel penelitian adalah para santri dan kyai/ustadz yang terlibat secara langsung dalam proses transformasi nilai tasawwuf yang  diselenggarakan di Pondok Pesantren Mukasyafah ‘Arifin Billah Desa Karangsari Kecamatan Plumbon Kabupaten Cirebon.
  4. Pengumpulan Data :
    1. Observasi

Observasi dilakukan untuk memperoleh data dari lapangan dengan melalui pengamatan secara langsung terhadap objek penelitian.  Data yang dimaksud antara lain perilaku keseharian para santri baik selama di dalam lingkungan pesantren amaupun selama berada di dalam proses pembelajaran atau penyelenggaraan pengajian kitab.

  1. Wawancara

Teknik ini dilakukan dengan cara melakukan dialog atau anya jawab secara langsung dengan sejumlah responden, baik santri, kyai atau ustadz, serta pihak-pihak yang terkait dengan penelitian ini. Data yang dibutuhkan adalah masalah persepsi, sikap, dan respon para responden mengenai transformasi nilai tasawwuf yang sudah berlangsung di Pondok Pesantren Mukasyafah ‘Arifin Billah Desa Karangsari Kecamatan Plumbon Cirebon selama ini.

  1. Angket

Teknik angket dilakukan sebagai salah satu cara untuk memperoleh data yang bersifat rahasia atau perlu dirasahasiakan mengenai transformasi nilai tasawwuf di Pondok Pesantren Mukasyafah ‘Arifin Billah Desa Karangsari Kecamatan Plumbon Cirebon

  1. Dokumentasi

Teknik ini pada dasarnya lebih mengutamakan kerja penulisan atau pencatatan atau rekaman (recording) tentang setiap objek yang diteliti. Akan tetapi, pencatatan terhadap data-data yang berbentuk catatan atau dokumen dijadikan sebagai pilihan  prioritas.

  1. Studi Kepustakaan

Studi kepustakaan adalah salah satu upaya membangun kepercayaan (trustworthinnes) sebuah penelitian. Teknik ini penulis lakukan dengan cara memperlajari dan mengkaji berbagai sumber referensial mengenai pewarisan nilai ajaran ulama sufi.

  1. Analisis Data
    1. Analisis Kuantitatif, dilakukan untuk mengolah data yang bersifat kuantitatif dengan cara tabulasi.

Analisis Kualitatif, dilakukan untuk mengolah data yang bersifat kualitatif dengan cara eksplanasi, diskripsi, dan problem solving (pemecahan masalah).


[1] Abdurrahman Saleh, dkk.,  Pedoman Pembinaan Pondok Pesantren (Jakarta : Binbaga Islam, 1982), h. 6.

[2] Abu Bakar & Shohib Salam, “ Pesantren Babakan Memangku Tradisi dalam Abad Modern “, dalam, Agus Sufihat, dkk., Aksi-Refleksi Khidmah NahdhatulUlama 65 Tahun (Bandung : PW NU Jawa Barat, 1991), h. 44.

[3] M. Natsir, Islam dan Kristen di Indonesia (Jakarta : Bulan Bintang, 1969), h. 21.

[4] Slamet  Effendy Yusuf, dkk., Dinamika Kaum Santri Menelusuri Jejak dan Pergolakan internal NU (Jakarta : Rajawali, 1983), h. 4.

[5] Ibid., h. 4.

[6] Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren (Jakarta : LP3ES, 1982), h. 85

[7] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam (Bandung : Remaja Rosda Karya, 1992), h. 194.

[8] Abdurrahman Mas’ud, Sejarah dan Budaya Pesantren, h. 20.

[9] Slamet, Op. Cit., h. 4.

[10] Djumhur, I, Sejarah Pendidikan (Bandung : CV Ilmu, 1976, cetakan ke-6), h. 111-112.

[11] AG, Muhaimin, Islam dalam Bingkai Budaya Lokal Potret dari Cirebon (Jakarta : Logos,  2002), h. 24.

[12] John, A.H., Islam in Southeast Asia: Problems of Perspective”, dalam, Ibrahim, A. Shiddique, S. dan Husein Y., Reading On Islam ini South East Asia, (Siangapore : ISEAS, 1985), h. 21.

[13] Muhaimin AG, Islam dalam Bingkai Budaya Lokal Potret dari Cirebon, (Jakarta : Logos, 2002), h. 8.

[14] Ibid., h. 9.

[15] Pijper, G.F., Fragmenta Islam Beberapa Studi Mengenai Sejarah Islam di Indonesia Awal Abad XX, terj. Tudjimah, (Jakarta : UI Press, 1987), h. 80.

[16] Ibid., h. 81.

[17] Ibid., h. 89.

[18] Wawancara dengan Wagimin Nurullah, Cirebon , 4 Januari 2006.

[19] Wawancana, 14  Januari 2006 di Pendopo di Lingkungan Pesantren Mukasyafah ‘Arifin Billah. Secara bahasa, bayt berarti rumah. Wagimin menjelaskan bahwa di dalam rumah tersebut terdapat kamar-kamar yang masing-masing memiliki isi tersendiri. Sedangkan yang dimaksud Bait 12 ini adalah 12 ajaran tasawuf yang merupakan rumusan yang dihasilkan oleh Nuruddaroin.

[20] Wawancara dengan Wagimin Nurullah, Cirebon,    6 Januari 2006.

[21] Surahardjo, Mistisisme, )Jakarta:  Pradnya Paramita, 1983(, h. 24.

[22] Musyâhadah adalah tahapan ketiga dalam tahapan-tahapan tauhid sebagai berikut (1) tahapanan iman secara lisan, (2) tahapan pembenaran atau tashdîq, (3) tahapan Musyâhadah/mukâsyafah/ma’rifah, dan (4)  tahapan fanâ``. Al-Ghazali, Ihyâ`  ’Ulûm al-Dîn, h. 223.

[23] Yayasan Pendidikan Arifin Billah, Riwayat Hidup H. Muhammad Nuruddaroinop. cit., h. 12.

[24] al-Ghazali, Ihyâ` ‘Ulûm al-Dîn, Juz I (Surabaya: Salim Nabhan wa Awladih, t.th.), h. 230.

[25] Muhammad Nur al-Darayn bin al-Syaykh al-Hajj Muhammad Ya’qub al-Syirbani, Bayt 12 min al-‘Ilm al-Mukâsyafah wa al-Ilhâm min ‘ind Allâh, tahqiq  Muhammad Mahfudz bin Muhammad Sanwani,  (Jember : t.p., t.th.),    h. 20.

[26] Ibid.., h. 27.

[27] Abdurrahman Wahid, Bunga Rampai Pesantren, h. 36.

[28] Wawancara dengan Wagimin Nurullah, Cirebon,  Kamis  6 Januari 2005.

[29] Surahardjo, Mistisisme, )Jakarta:  Pradnya Paramita, 1983(, h. 24.

About hajisuteja

Alumni IAIN Sunan Ampel (S2) Alumni UIN SGD Bandung (S3) Dosen IAIN CIREBON
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s