PROPOSAL PENELITIAN MANDIRI KONSEP DIRI PEZIARAH KUBUR MAKAM SUNAN GUNUNG JATI CIREBON OLEH: SUTEJA (DOSEN IAIN SYEKH NURJATI CIREBON)

PROPOSAL PENELITIAN MANDIRI

KONSEP DIRI PEZIARAH KUBUR MAKAM SUNAN GUNUNG JATI CIREBON

OLEH:

SUTEJA (DOSEN IAIN SYEKH NURJATI CIREBON)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Konteks Penelitian

Aura sakral terasa di komplek Astana Sunan Gunung Jati Cirebon. Ucapan doa dan dzikir keluar tak henti-henti dari mulut para peziarah. Sebagian yang lain membaca ayat-ayat suci al-Qur’an. Kesucian semakin bertambah manakala sejumlah peziarah yang sedang mengalami ekstase dalam kondisi dzikrullah dengan ayunan kepala dan tubuh seraya menyebut keesaan dan kebesaran Tuhan. Seorang ibu yang kulit mukanya mulai mengeriput, terus meneteskan air mata, tak sedikit di antara mereka, terus memilin butir-butir tasbih di tangan kanannya seraya memejamkan mata demi menjaga kekhusyukan.

Tiap hari, ratusan peziarah berdatangan. Mereka datang tidak hanya dari wilayah III Cirebon, peziarah juga datang dari daerah lain di Jawa dan luar Jawa. Sering pula terlihat peziarah mancanegara, seperti peziarah dari Cina. Peziarah dari Cina, biasanya datang untuk nyekar ke makam Putri Nio Ong Tien, Putri Kaisar Hong Gie dari Dinasti Ming yang diyakini sebagai salah satu istri Sunan Gunung Jati. Mereka membakar hio dan melakukan persembahyangan sesuai tradisi agamanya.

Dalam waktu-waktu tertentu, peziarah yang datang ke komplek Astana sangatlah banyak jumlahnya. Menariknya, siklus itu berjalan secara periodik setiap tahun, seperti di bulan Syawal, Maulid atau 1 Muharram, atau setiap malam Jum’at biasa maupun Jum’at Kliwon. Para pengamat dan peneliti akan terheran-heran melihat ratusan bahkan sampai ribuan orang datang untuk melakukan ziarah, sehingga komplek Astana dipenuhi oleh peziarah yang datang secara bergantian. Semua peziarah yang datang memiliki berbagai tujuan dan motivasi, mulai dari yang sifatnya sederhana seperti hanya berwisata melihat bangunan arsitektur yang unik dan benda-benda purbakala, sampai dengan yang memiliki keinginan-keinginan yang berat, seperti peziarah yang sedang menghadapi persoalan dalam hidup, usahanya bangkrut atau ingin naik pangkat, mendapat jodoh dan sebagainya. Mereka yang datang berziarah ke komplek Astana Sunan Gunung Jati ingin memperoleh barokah (ngalap berkah) dari karomah atau kemuliaan sang sunan dan para luluhur Cirebon yang dikuburkan di komplek Astana Sunan Gunung Jati.

Bagi peziarah, makam para wali khususnya diyakini memiliki karomah atau nilai kekeramatan yang tidak dimiliki oleh orang-orang biasa, karena kepribadian para wali semasa hidupnya yang mencurahkan seluruh jiwa raganya untuk menyebarkan dan menegakkan ajaran Islam. Karena nilai kekeramatan itulah makam-makam tersebut dipercaya dapat mempermudah terkabulnya doa yang dipanjatkan. Begitu juga dengan makam Sunan Gunung Jati yang dipercaya memiliki derajat karomah yang sangat tinggi. Pertautan masa yang teramat jauh berabad-abad lamanya antara Sunan Gunung Jati dengan peziarah khususnya bukanlah masalah yang akan mengurangi keyakinan. Mereka berkeyakinan bahwa peninggalan sang wali bisa digunakan sebagai media untuk berkomunikasi dalam rangka mengharapkan ‘berkah dan karomah’. Salah satunya adalah dengan cara ziarah mengunjungi makam dan peninggalan beliau.

Ziarah adalah sebuah fenomena yang selalu disaksikan oleh manusia sepanjang sejarah anak Adam. Ziarah tidak terbatas hanya pada masyarakat muslim atau umat beragama lainnya. Akan tetapi menjadi perhatian berbagai macam masyarakat dengan berbagai kecenderungan pikirannya. Melakukan ziarah adalah tindakan yang disengaja oleh setiap pelakunya. Orang yang melakukan ziarah disebut peziarah. Mereka adalah salah satu “aktor kehidupan” yang memerankan sebuah panggung drama kehidupan, yang memiliki hasrat, harapan dan kehidupan yang unik. Mereka menciptakan dunia dan struktur sosialnya sendiri, termasuk dunia simbolnya.

Berbagai kajian dapat digunakan untuk mengungkap fenomena peziarah. Salah satunya adalah dengan kajian disiplin ilmu komunikasi. Setiap praktek komunikasi pada dasarnya adalah suatu representasi budaya. Komunikasi dan budaya adalah dua entitas yang tak terpisahkan, sebagaimana yang dikatakan Edward T. Hall, “budaya adalah komunikasi dan komunikasi adalah budaya” (Mulyana, 2005:14). Budaya dan komunikasi mempunyai hubungan yang timbal balik. Diskursus tentang komunikasi, tidak dapat terhindar dari diskursus budaya.

Ziarah dan peziarahnya merupakan suatu kehidupan yang unik dan merupakan subkultur budaya yang khas. Fenomena sosial tersebut dapat ditinjau dari proses interaksi simbolik di antara mereka. Pendekatan interaksi simbolik sebagai suatu pendekatan komunikasi dapat digunakan untuk menjelaskan bagaimana peziarah berinterkasi dengan sesama peziarah, dengan para kuncen (juru kunci makam) dan mungkin berinteraksi dengan “yang ada di dalam kubur”. Pendekatan interaksi simbolik tidak hanya menganalisis kehadiran manusia di antara sesamanya, tetapi juga motif, sikap, juga nilai yang mereka anut.

Seperti komunitas lainnya, para peziarah di komplek Astana Sunan Gunung Jati mempunyai budaya tersendiri yang meliputi seluruh perangkat nilai dan perilaku mereka yang unik. Mereka menciptakan panggung-panggung sendiri yang membuatnya bisa tampil sebagai sebuah komunitas. Pada panggung inilah, mereka keluar dari panggung kehidupan sebenarnya yang dijalani sehari-hari. Panggung-panggung ini berkemampuan menjadi pemompa semangat (motivasi), pemberi solusi pada masalah yang sedang dihadapi (to solve the problems), dan memberikan sedikit pelepas dahaga serta menjadi pegangan dalam menjalani peran di panggung kehidupan yang sebenarnya yakni kehidupan sehari-hari. Bagaikan seorang aktor, mereka menunjukkan atribut mereka melalui bahasa verbal, maupun nonverbal, busana, pembawaan diri, pernik atau aksesoris dan alat atau simbol-simbol lainnya.

Ziarah ke makam Sunan Gunung Jati Cirebon adalah sebuah tradisi yang masuk kedalam budaya keagamaan umat Islam khususnya. Para paziarah yang datang untuk melakukan aktivitas tahlilan, dizkrullah ataupun memanjatkan doa kepada Allah SWT, latar belakang kehidupan mereka sangat beragam dari mulai kelas petani, nelayan, pedagang, pengusaha, karyawan swasta, PNS, TNI, POLRI, Presiden/Wakil Presiden, dan bahkan para kyai dan ulama. Mereka datang dengan berbagai kepentingan (motivasi atau niat) yang hanya dapat dipahami dari ungkapan-ungkapan atau bahasa verbal maupun nonverbalnya.

B. Fokus Kajian

Berdasarkan uraian di atas, maka studi ini akan difokuskan untuk menelaah perilaku dan mengungkap alasan atau motivasi apa yang mendorong peziarah melakukan ziarah.

C. Pertanyaan Penelitian

  1. Bagaimana proses ritual ziarah di Astana Gunung Jati Cirebon?
  1. Bagaimana konsep diri peziarah di Astana Gunung Jati Cirebon?
  2. Apa motif peziarah melakukan ziarah ke Astana Gunung Jati Cirebon?

D. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data tentang :

  1. Proses ritual ziarah di Astana Gunung Jati Cirebon.
  2. Konsep diri peziarah di Astana Gunung Jati Cirebon.
  3. Motif peziarah di Astana Gunung Jati Cirebon.

E. Kegunaan Penelitian

Kegunaan penelitian ini dapat dilihat dari sisi teoritis dan praktis, antara lain adalah:

  1. Kegunaan Teoritis
  • Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi kajian Ilmu Komunikasi dalam kaitannya dengan pemahaman tentang konsep-diri peziarah.
  • Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran dan pengetahuan bagi peneliti khususnya dan para mahasiswa lain pada umumnya mengenai apa, mengapa, dan bagaimana peziarah melakukan ritual ziarah di komplek Astana Gunung Jati, khususnya konsep diri dan motivasi dari peziarah.
  • Diharapkan penelitian ini dapat memberi manfaat pengetahuan bagi masyarakat Cirebon khususnya dan bangsa Indonesia umumnya mengenai konsep-diri peziarah. Juga sebagai perangsang untuk lebih memahami kekayaan dan seluk beluk tradisi di Indonesia.
  • Penelitian ini diharapkan menjadi bahan masukan bagi Departemen Pariwisata dan Kebudayaan Cirebon dalam upaya membuat program alternatif di bidang kebudayaan sehingga dapat mendukung terlestarikannya kebudayaan tradisional yang ada di Cirebon.
  • Penelitian ini diharapkan menjadi bahan masukan bagi Departemen Pariwisata dan Kebudayaan Cirebon sehingga bisa membuat rencana atau program untuk mengembangkan potensi wisata ziarah di Cirebon.
  1. Kegunaan Praktis

E. Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran yang digunakan dalam penelitian ini dadasarkan pada pendekatan interaksi simbolik, khususnya gagasan-gagasan yang diungkapkan oleh George Herbert Mead dan Erving Goffman. Teori-teori dari kedua tokoh tersebut dapat dianggap sebagai teori yang saling melengkapi. Interaksi simbolik mengandung inti dasar pemikiran umum tentang komunikasi dan masyarakat (Littlejohn, 1997:271).

Interaksi simbolik mempelajari sifat interaksi yang merupakan kegiatan sosial dinamis manusia. Bagi perspektif ini, individu bersifat aktif, reflektif dan kreatif, menafsirkan, menampilkan perilaku yang rumit dan sulit diramalkan. Paham ini menolak gagasan bahwa individu adalah organisme pasif yang perilakunya ditentukan oleh kekuatan-kekuatan atau struktur yang ada di luar dirinya. Oleh karena individu terus berubah maka masyarakat pun berubah melalui interaksi. Jadi interaksilah yang dianggap variabel penting yang menentukan perilaku manusia, bukan struktur masyarakat. Struktur itu sendiri tercipta dan berubah karena interaksi manusia, yakni ketika individu-individu berpikir dan bertindak secara stabil terhadap seperangkat objek yang sama (Mulyana, 2008:61).

Teori interaksi simbolik berusaha memahami manusia sebagai subjek utama dalam percaturan sosial, meletakkan manusia sebagai pelaku aktif dan proaktif. Pada dasarnya teori interaksi simbolik mengetangahkan soal “diri” (self) dengan segala atribut dunia luarnya. Cooley menyebutnya dengan the looking-glass self. Cooley berpendapat bahwa konsep-diri individu secara signifikan ditentukan oleh apa yang ia pikirkan tentang pikiran orang lain mengenai dirinya, jadi menekankan pentingnya respons orang lain yang ditafsirkan secara subjektif sebagai sumber primer data mengenai diri. Ringkasnya, apa yang diinternalisasikan sebagai milik individu berasal dari informasi yang ia terima dari orang lain (Mulyana, 2008:74). Artinya, interaksi manusia selalu dipenuhi dengan simbol-simbol, baik dalam kehidupan sosial maupun kehidupan diri sendiri. Diri tidak terisolasi, melainkan bersifat sosial. Dengan demikian teori interaksi simbolik memandang dan memperlakukan manusia sebagai diri sendiri sekaligus diri yang bersifat sosial.

Interaksi simbolik telah mengilhami lahirnya perspektif-perspektif lain, seperti “teori penjulukan” (labeling theori) dalam studi tentang penyimpangan perilaku (deviance), perspektif dramaturgis dari Erving Goffman, dan etnometodologi dari Harold Garfinkel. Ketiga pendekatan tersebut dapat dianggap varian-varian interaksionisme simbolik (Mulyana, 2008:68). Satu varian interaksi simbolik yang dapat membantu menggambarkan fenomena peziarah adalah teori dramaturgis dari Erving Goffman.

Goffman menganalisa tingkah laku manusia dengan sebuah metafora yang teatrikal, di mana di dalamnya lokasi umum dianggap sebagai sebuah panggung dan orang-orang bertindak sebagai aktor yang menyusun performa mereka untuk memberi kesan kepada para penonton. Kerangka dasar teori dramaturgis yang dikemukakan Erving Goffman diawali oleh sebuah asumsi bahwa seseorang bagaimanapun harus membuat atau mengatur peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Yang muncul sebagai suatu kejadian yang terorganisasi bagi seorang individu akan menjadi realitas pada orang tersebut pada saat itu. Yang nyata bagi seseorang adalah definisi-definisinya terhadap situasi tersebut (Littlejohn, 1997:291).

Pemikiran Goffman banyak terilhami oleh teori dari George Herbert Mead yang dianggap sebagai bapak interaksi simbolik. Inti pemikiran Goffman adalah “diri” (self), yang dijabarkan lebih jauh oleh Goffman dengan cara yang unik dan memikat. Goffman adalah penafsir brilian “konsep diri” dari George Herbert Mead (1934), peletak dasar teori interaksi simbolik. Jika Mead menganggap diri pada dasarnya bersifat sosial, lebih-lebih lagi Goffman. Bagi Goffman, individu tidak sekedar mengambil peran orang lain, melainkan bergantung pada orang lain untuk melengkapkan citra-diri tersebut. Kontras dengan diri dari Mead yang stabil dan sinambung selagi membentuk dan dibentuk masyarakat secara jangka panjang, diri dari Goffman bersifat temporer dan bermain peran, karena selalu dituntut oleh peran-peran sosial yang berlainan interaksinya dengan masyarakat yang berlangsung dalam episode-episode pendek (Mulyana, 2004:2-3).

F. Metodologi Penelitian

1. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Menurut Bogdan dan Taylor (1975:5) dalam buku karya Moleong dengan judul “Metodologi Penelitian Kualitatif” (2005:4) mendefinisikan metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Menurut mereka, pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara holistik (utuh). Jadi, dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu atau organisasi ke dalam variabel atau hipotesis, tetapi perlu memandangnya sebagai bagian dari suatu keutuhan.

Denzin & Lincoln mengemukakan bahwa para pakar mendefinisikan penelitian kualitatif secara berlainan. Menggunakan definisi yang sederhana, penelitian kualitatif adalah penelitian yang bersifat interpretif (menggunakan penafsiran) yang melibatkan banyak metode, dalam menelaah masalah penelitiannya. Penggunaan berbagai metode ini (sering disebut triangulasi) dimaksudkan agar peneliti memperoleh pemahaman yang komprehensif (holistik) mengenai fenomena yang diteliti. Sesuai dengan prinsip epistemologisnya, peneliti kualitatif lazim menelaah hal-hal yang berada dalam lingkungan alamiahnya, berusaha memahami, atau menafsirkan fenomena berdasarkan makna-makna yang orang berikan kepada hal-hal tersebut (Mulyana, 2007:5). Penelitian kualitatif pada hakekatnya ialah mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya.

Oleh karena dalam penelitian ini peneliti berupaya menggambarkan fenomena dunia peziarah menurut pandangan mereka sendiri, maka pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan fenomenologi. Fenomenologi diartikan sebagai: 1) pengalaman subjektif atau pengalaman fenomenologikal; 2) suatu studi tentang kesadaran dari perspektif pokok dari seseorang (Husserl). Fenomenologi merupakan pandangan berpikir yang menekankan pada fokus kepada pengalaman-pengalaman subjektif manusia dan interpretasi-interpretasi dunia (Moleong. 2005:15). Dengan demikian, pendekatan fenomenologi berupaya menjelaskan makna pengalaman hidup individu tentang suatu gejala atau kejadian, dalam hal ini peziarah, termasuk di dalamnya konsep-diri mereka.

Peneliti dalam pandangan fenomenologi berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang yang berada dalam situasi-siatuai tertentu. Fenomenologi tidak berasumsi bahwa peneliti mengetahui arti sesuatu bagi orang-orang yang sedang diteliti oleh mereka. Inkuiri fenomenologi memulai dengan diam. Diam merupakan tindakan untuk menangkap pengertian sesuatu yang sedang diteliti. Yang ditekankan oleh kaum fenomenologis ialah aspek subjektif dari perilaku orang. Mereka berusaha untuk masuk ke dalam dunia konseptual para subjek yang ditelitinya sedemikian rupa sehingga mereka mengerti apa dan bagaimana suatu pengertian yang dikembangkan oleh mereka di sekitar peristiwa dalam kehidupan sehari-hari (Moleong, 2005:17).

Littlejohn menyebutkan fenomenologi adalah studi tentang pengetahuan yang berasal dari kesadaran, atau cara di mana orang-orang menjadi paham akan obyek-obyek dan peristiwa-peristiwa dengan mengalaminya secara sadar. Studi ini melihat obyek-obyek dan kejadian-kejadian dari sudut pandang si perceiver, individu yang mengalami hal-hal tersebut. Sebuah fenomena adalah tampilan suatu obyek, kejadian, atau kondisi di dalam persepsi. Dengan demikian, realita dalam fenomenologi adalah cara bagaimana hal-hal tampak dalam persepsi sadar dari individu tersebut (Littlejohn, 1997:354).

Fenomenologi menjadikan pengalaman hidup yang sesungguhnya sebagai data dasar dari realita. Dengan mengutip pendapat Richard E. Palmer, Littlejohn labih jauh menjelaskan bahwa fenomenologi berarti membiarkan segala sesuatu menjadi nyata sebagaimana aslinya, tanpa memaksakan kategori-kategori peneliti terhadapnya. Seorang ilmuwan yang “obyektif” menghipotesiskan sebuah struktur tertentu dan kemudian memeriksa apakah struktur tersebut memang ada; seorang fenomenolog tidak pernah membuat hipotesis, tetapi menyelidiki dengan seksama pengalaman langsung yang sesungguhnya untuk melihat bagaimana kelihatannya.

Pendekatan fenomenologi termasuk pada pendekatan subjektif atau interpretif, yang memandang manusia itu aktif, berbeda dengan pendekatan objektif (behavioris dan struktural) yang memandang manusia itu pasif. Istilah fenomenologi dapat digunakan sebagai istilah generik untuk merujuk kepada semua pandangan ilmu sosial yang menempatkan kesadaran manusia dan makna subjektifnya sebagai fokus untuk memahami tindakan sosial, seperti pandangan Max Weber, Charles Horton Cooley, George Herbert Mead, William I. Thomas, juga pandangan-pandangan Alfred Schutz, George Simmel, Herbert Blumer, Erving Goffman, Peter L. Berger, Thomas Luckmann, dan hingga derajat tertentu juga pandangan para psikolog Carl Rogers, Abraham Maslow, dan Erich Fromm (Mulyana, 2008:20-21). Teori interaksi simbolik yang digunakan dalam penelitian ini termasuk ke dalam pendekatan fenomenologi (subjektif atau interpretif).

2. Sunber Data

Menurut Lofland dan Lofland (1984:47) sumber data utama dalam penelitan kualitatif ialah kata-kata, dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain–lain (Moleong, 2005:157). Dalam penelitian kualitatif, sumber data disebut sebagai informan dan berfungsi sebagai subjek penelitian.

Adapun data yang diperoleh peneliti terdiri dari:

1)      Data Primer

Data yang diperoleh langsung melalui wawancara mendalam dengan responden informan dengan menggunakan panduan wawancara (interview guide). Kata-kata dan tindakan para informan merupakan sumber data utama. Sumber data utama dicatat melaui catatan tertulis atau melalui perekam audio (tape recorder). Pencatatan sumber data utama melalui wawancara atau pengamatan berperanserta merupakan hasil usaha gabungan dari kegiatan melihat, mendengar dan bertanya.

2)      Data Sekunder

Merupakan data yang berasal dari sumber tertulis yang dapat diperoleh dari sumber arsip-arsip lokal yang berguna bagi penelitian, studi pustaka dan referensi lainnya.

3)      Informan

Merupakan orang yang mempunyai kapabilitas dan kompeten dalam memberikan informasi. Jadi dalam penelitian ini lebih tepat memilih informan yang benar-benar melakukan ziarah yakni peziarah itu sendiri, dan juga kuncen-kuncen (juru kunci) di Komplek Astana Sunan Gunung Jati.

3. Teknik Pengumpulan Data

a. Studi Kepustakaan

Studi kepustakaan merupakan pencarian data penunjang yang berhubungan dengan masalah yang sedang diteliti oleh penulis. Data diperoleh dari buku-buku ilmiah, majalah, hasil penelitian seseorang atau referensi lain yang ada kaitannya dengan penelitian sebagai penunjang serta sekaligus untuk melengkapi data-data yang dibutuhkan secara tertulis.

b. Pengamatan Berperanserta

Pengamatan berperanserta menceritakan kepada peneliti apa yang dilakukan oleh orang-orang dalam situasi peneliti. Pengamatan berperanserta pada dasarnya berarti mengadakan pengamatan dan mendengarkan secara secermat mungkin sampai pada yang sekecil-kecilnya sekalipun. Bogdan (1972:3) mendefinisikan secara tepat pengamatan berperanserta sebagai penelitian yang bercirikan interaksi sosial yang memakan waktu cukup lama antara peneliti dengan subjek dalam lingkungan subjek, dan selama itu data dalam bentuk catatan lapangan dikumpulkan secara sistematis dan berlaku tanpa gangguan (Moleong, 2005:164).

Melalui pengamatan berperanserta, peneliti dapat berpartisipasi dalam rutinitas subjek penelitian baik mengamati apa yang mereka lakukan, mendengarkan apa yang mereka katakan, dan menanyai orang-orang lainnya di sekitar mereka selama jangka waktu tertentu. Menggunakan kategori Denzin, salah satu jenis pengamat adalah peserta sebagai pengamat (participant as observer), dengan membiarkan kehadirannya sebagai peneliti dan mencoba membentuk serangkaian hubungan dengan subjek sehingga mereka berfungsi sebagai responden dan informan; jenis lainnya adalah partisipan penuh (complete participant), yang niatnya untuk meneliti tidak diketahui ketika ia mengamati pihak yang ditelitinya; pengamat sebagai partisipan (observer as participant) yang lazimnya merepresentasikan situasi yang memungkinkan peneliti melakukan sekali kunjungan atau wawancara dengan responden; dan pengamat penuh (complete observer) yang tidak melibatkan interaksi sosial (Mulyana,2008:176).

c. Wawancara

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Moleong, 2005:186).

Wawancara adalah bentuk komunikasi antara dua orang, melibatkan seseorang yang ingin memperoleh informasi dari seorang lainnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, berdasarkan tujuan tertentu. Wawancara secara garis besar dibagi dua, yakni wawancara tak terstruktur dan wawancara terstruktur. Wawancara tak terstruktur sering juga disebut wawancara mendalam, wawancara intensif, wawancara kualitatif dan wawancara terbuka (openended interview); sedangkan wawancara terstruktur sering juga disebut wawancara baku (standardized interview), yang susunan pertanyaannya sudah ditetapkan sebelumnya (biasanya tertulis) dengan pilihan-pilihan jawaban yang juga sudah disediakan (Mulyana, 2008:180).

Secara teknis, dalam penelitian ini menggunakan wawancara mendalam (tak terstruktur) yang dilakukan antara peneliti dengan informan dan dilakukan dalam bentuk percakapan dan diskusi serta bersifat informal. Wawancara atau tanya jawab langsung peneliti lakukan terhadap pihak-pihak yang dianggap memiliki informasi yang relevan dengan masalah penelitian ini.

4. Teknik Analisis Data

Analisis data kualitatif (Bogdan & Biklen, 1982) adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain (Moleong, 2005:248).

Analisis data menurut Patton (1980:268), adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar. Ia membedakannya dengan penafsiran, yaitu memberikan arti yang signifikan terhadap hasil analisis, menjelaskan pola uraian, dan mencari hubungan di antara dimensi-dimensi uraian. Bogdan dan Taylor (1975:79) mendefinisikan analisis data sebagai proses yang merinci usaha secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis kerja (ide) seperti yang disarankan oleh data dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada tema dan hipotesis kerja itu (Moleong, 2005:280).

Pada definisi yang pertama lebih menitikberatkan pada pengorganisasian data, sedangkan pada definisi yang kedua lebih menekankan maksud dan tujuan analisis data. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data.

Dalam arti sempit, analisis data diartikan sebagai kegiatan pengolahan data yang terdiri atas tabulasi dan rekapitulasi data. Tabulasi data dinyatakan sebagai proses pemaduan atau penyatupaduan sejumlah data dan informasi yang diperoleh peneliti dari setiap sasaran penelitian, menjadi satu kesatuan daftar, sehingga data yang diperoleh menjadi mudah dibaca atau dianalisis. Rekapitulasi merupakan langkah penjumlahan dari setiap kelompok sasaran penelitian yang memiliki karakter yang sama.

Dalam proses pelaksanaannya, tahap pengolahan data tidak cukup hanya terdiri atas tabulasi dan rekapitulasi saja, akan tetapi mencakup banyak tahap. Proses analisis data dalam penelitian ini terdiri dari tahap reduksi data, penyajian data, interpretasi data dan penarikan kesimpulan/verifikasi.

Reduksi data diartikan secara sempit sebagai proses pengurangan data, namun dalam arti yang lebih luas adalah proses penyempurnaan data, baik pengurangan terhadap data yang kurang perlu dan tidak relevan, maupun penambahan terhadap data yang dirasa masih kurang. Penyajian data merupakan proses pengumpulan informasi yang disusun berdasarkan kategori atau pengelompokan-pengelompokan yang diperlukan dalam penelitian. Interpretasi data merupakan proses pemahaman makna dari serangkaian data yang telah tersaji, dalam wujud yang tidak sekedar melihat apa yang tersurat, namun lebih pada memahami atau menafsirkan mengenai apa yang tersirat di dalam data yang telah disajikan. Penarikan kesimpulan/verivikasi merupakan proses perumusan makna dari hasil penelitian.

1.8. Pengecekan dan Pemeriksaan Keabsahan Data

Tahap akhir dari analisis data adalah mengadakan pemeriksaan keabsahan data. Untuk menetapkan keabsahan data diperlukan teknik pemeriksaan. Pelaksanaan teknik pemeriksaan data didasarkan atas sejumlah kriteria tertentu. Ada empat kriteria yang digunakan dalam pemeriksaan keabsahan data, yaitu derajat kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability), kebergantungan (dependability) dan kepastian (confirmability) (Maleong, 2005:324).

Teknik pemeriksaan keabsahan data dalam penelitian ini meliputi:

  1. Perpanjangan keikutsertaan; keikutsertaan peneliti sangat menentukan dalam pengumpulan data. Keikutsertaan itu tidak hanya dilakukan dalam waktu yang singkat, tetapi memerlukan perpanjangan keikutsertaan pada latar penelitian. Perpanjangan keikutsertaan peneliti akan memungkinkan peningkatan derajat kepercayaan data yang dikumpulkan.
  2. Ketekunan pengamatan; bermaksud menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang dicari dan kemudian memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci.
  3. Triangulasi, adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Teknik triangulasi yang paling banyak digunakan ialah pemeriksaan melalui sumber lainnya.
  4. Pengecekan sejawat, adalah teknik yang dilakukan dengan cara mengekspos hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi dengan rekan-rekan sejawat.
  5. Analisis kasus negatif, teknik ini dilakukan dengan jalan mengumpulkan contoh dan kasus yang tidak sesuai dengan pola dan kecenderungan informasi yang telah dikumpulkan dan digunakan sebagai bahan pembanding.
  6. Auditing, adalah konsep bisnis, khususnya di bidang fiskal yang dimanfaatkan untuk memeriksa kebergantungan data dan kepastian data. Hal itu dilakukan baik terhadap proses maupun terhadap hasil atau keluaran. Proses ini dibantu oleh auditor, dalam hal ini adalah pembimbing peneliti.

1.9. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Cirebon, di daerah pantai utara Jawa Barat bagian timur. Penelitian dilakukan pada bulan Juni  2010 sampai dengan Desember 2010. Cirebon terletak di pantai utara Jawa, merupakan perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Timur. Cirebon merupakan pintu gerbang bagi kedua propinsi, sehingga di Cirebon terdapat dua sub-kultur budaya, yakni Sunda dan Jawa.

Penelitian ini difokuskan pada satu tempat ziarah yang sering dikunjungi oleh peziarah, yaitu : Komplek Astana Sunan Gunung Jati.

1.10. Langkah-Langkah Penelitian

Langkah-langkah penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah langkah-langkah penelitian yang berbeda dengan yang dipergunakan dalam metode penelitian non kualitatif, seperti yang dijelaskan oleh Moleong (2005:84-105), yaitu :

  1. Tahap pralapangan :

a)      menyusun rancangan penelitian

b)     memilih lahan penelitian

c)      mengurus perizinan

d)     menjajagi, menilai keadaan lapangan

e)      memilih informan

f)       menyiapkan perlengkapan penelitian.

  1. Tahap pekerjaan lapangan :

a)      memasuki latar penelitian

b)     memasuki lapangan

c)      mengumpulkan data dengan cara : berperan serta, wawancara mendalam dan studi pustaka.

  1. Tahap analisis data :

a)      membuat konsep dasar analisis data

b)     mengategorikan data lapangan

c)      menganalisis berdasarkan pengategorian data lapangan dan pendalaman kepustakaan.

About hajisuteja

Alumni IAIN Sunan Ampel (S2) Alumni UIN SGD Bandung (S3) Dosen IAIN CIREBON
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s