PENELITIAN KUANTITAIF DAN KUALITATIF

Waterfall Ironggolo, Kediri, Jawa Timur
Image via Wikipedia
PENELITIAN KUANTITAIF DAN KUALITATIF

SUTEJO

Pendahuluan

Penelitian merupakan suatu proses yang panjang.  Ia berawal pada niat untuk mengetahui fenomena tertentu dan selanjutnya berkembang menjadi gagasan, teori, konseptualisasi, pemilihan metode penelitian yang sesuai dan seterusnya. Hasil akhirnya, pada gilirannya, melahirkan gagasan dan teori baru sehingga merupakan suatu proses yang tiada hentinya.

Secara sederhana langkah-langkah yang lazim ditempuh dalam pelaksanaan penelitian adalah sebagai berikut :

  1. merumuskan masalah penelitian dan menentukan tujuan.
  2. menentukan konsep dan hipotesa serta menggali kepustakaan
  3. pengambilan sampel
  4. pembuatan kuosioner
  5. pekerjaan lapangan, termasuk memilih dan melatih pewawancara
  6. pengolahan data
  7. analisa dan pelaporan.

Penelitian Kuantitatif

Pada prakteknya, seseorang peneliti dapat menentukan pilihan antara penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Penelitian kuantitatif adalah salah satu jenis penelitian yang cenderung lebih menempatkan data kuantitatif sebagai kekuatan kerjanya. Penelitian ini menjadikan data berupa angka, jumlah, bilangan, sera catatan atau dokumen sebagai data utama.

Cara kerja penelitian ini mengutamakan cara-cara tabulasi data  baik berupa tabel, grafik, kurva dan sebagainya. Namun demikian, ia juga bisa dipergunakan untuk mengolah dan menganalisis data kualitatif ke dalam bentuk angka-angka. Sehingga terkesan murni sebagai penelitian kuantitatif.

Penelitian Kualitatif

Dilihat dari aspek datanya, penelitian kualitatif biasanya menjadikan data  berupa teori, konsep, taupun norma-norma tertentu sebagai data penelitian. Cara kerjanya adalah dengan melakukan penafsiran, penjelasan ataupun uraian serta komentar terhadap data tersebut. Jarang sekali peneliti melakukan pengolahan data dalam bentuk tabulasi dari data kualitatif ke dalam bentuk angka atauun bilangan. Namun demikian, tidak mustahil apabila penelitian ini mempergunakan kaidah-kiadah yang berlaku dalam disiplin ilmu yang lazim dipergunakan dalam penelitian kuantitatif seperti statistik.

Penelitian kuantitatif dan kualitatif dapat dipergunakan untuk kerja penelitian yang beragam baik penelitian pendidikan, sosial, agama,  dan juga sejarah. Kedua penelitian itu dapat diterapkan ke dalam penelitian deskripstif dan juga eksperimental.

A. Latar Belakang

Pendidikan pesantren adalah lembaga pendidikan rakyat yang tertua di Indonesia. Pesantren yang dianggap palingtua dan pertama adalah pesantren Mawlana Malik Ibrahim di Gresik (didirikan tahun 1619 M.).[1] Pendidikan pesantren konon diadopsi dari negeri asal kelahiran Islam, Makkah al-Mukarromah, seperti bentuk pengajian yang mula-mula diadakan di luar kota Makkah dan kemudian dipindahkan ke rumah pemuda bernama Arqam. Ada juga yang menilai pesantren berasaldari sistem pendidikan Islam di zaman kejayaan Baghdad.

Pendapat yang lazim adalah pendidikan pesantren merupakan kelanjutan dari sistem pendidikan zaman Hindu-Buddha yang dijumpai oleh generasi pertama Wali Songo. Syaikh Mawlana Malik Ibrahim dinilai telah membawa tradisi sistem Guru Kala ke dalam sistem pendidikannya dalam menyebarkan Islam di Nusantara.[2] Kemudian perkembangan selanjutnya, bagi Soegarda Poerbakwatja, sistem pendidikan yang berasal dari Hindu Jawa lambat laun berubah menjadi perguruan-perguruan agama Islam.[3]

Sebagai pusat kegiatan dan pengkaderan calon-calon da’I (penyebar ajaran agama Islam), dewan Wali Songo mendirikan masjid dan sekaligus pesantren. Dengan demikian sejarah pendidikan pesantren di Jawa sama tuanya dengan kedatangan Wali Songo di tanah Jawa. Adapun pesantren pertama adalah pesantren yang didirikan oleh Syaikh Mawlana Malik Ibrahim.[4] Menyusul kemudian pesantren Sunan Ampel di daerah Kembangkuning Surabaya, yang pada mulanya hanya memiliki tiga orang santri atau murid.[5] Pesantren Sunan Ampel inilah yang melahirkan kader-kader Wali Songo seperti Sunan Giri (Raden Paku atau Raden Samudro).

Sunan Giri mendapat ilmu pengetahuan agama mula-mula dari Sunan Ampel dan kemudian setelah dianggap cukup memadai, ia belajar ke Mekkah atas perintah sang guru. Akan tetapi, sebelum sampai ke Mekkah ia singgah di Pasai. Di sana ia berguru kepada Mawlana Ishak (ayahanda Sunan Giri). Kepada ayahnya Sunan Giri mendapatkan ilmu baru yang belum diterima dari Sunan Ampel, yaitu ilmu tasawwuf dan ihwal yang berkenaan dengan kewalian. Beberapa tahun kemudian ia kembali ke Jawa dan ikut membangun pendirian Masjid Agung Demak. Di Gresik Sunan Giri kemudian mendirikan sebuah pesantren di Desa Sidomukti, yang lebih dikenal dengan tanah Kedaton. Sekarang pesantren Sunan Giri lebih akrab disebut Pesantren Giri Kedaton karena letaknya di atas gunung atau giri.

Abu Bakar Atjeh, seperti dinukil Marwan,  melukiskan bahwa pesantren Giri Kedaton sebagai pesantren yang termasyhur di wilayah Jawa Timur. Para santri yang datang untuk belajar di sana berasal dari daerah yang sangat beragam seperti : Madura, Lombok, Bima, Makasar, dan Ternate (Halmahera), selain daeri daerah-daerah di Jawa Timur sendiri. Sampai dengan abad ke-17 M. pesantren ini masih tetapharum dan didatangi oleh para santri untuk menimba ilmu agama Islam di sana.

Ketika Demak dipimpin oleh Sultan Trenggono (memerintah 1521 – 1546) ia memerintahkan Fatahillah (Fadhilah Khan) yang dipandai ‘alim dan dihormati masyarakat untuk mendirikan pesantren di Demak.[6]


[1] Djaelani, H.A. Timur, Peningkatan Mutu Pendidikan dan Pembangunan Perguruan Agama (Jakarta : Dermaga, 1980), h. 17.

[2] Di Nusantara Sistem Guru Kala telah berkembang mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Airlangga di Surabaya Jawa Timur dan pendidikan Buddha pada   masa pemerintahan Sriwijaya. Ki Hajar Dewantara memasukkannya ke dalam Taman Siswa. (M. Said, Mendidik dari Zaman ke Zaman, Bandung, Jenmars, 1987, h. 88).

[3] Soegarda Poerbakwatja, Pendidikan dalam Alam Indonesia Merdeka (Jakarta : Gunung Agung, 1970), h. 18.

[4] Marwan Saridjo, Sejarah Pondok Pesantren (Jakarta : Dharma Bhakti, 1982), h. 24.

[5] Ibid., h. 25.

[6] Ibid., h. 27.

Enhanced by Zemanta

About hajisuteja

Alumni IAIN Sunan Ampel (S2) Alumni UIN SGD Bandung (S3) Dosen IAIN CIREBON
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s